Jamaah Ikhwanul Muslimin Melakukan Kunjungan Bersejarah

Posted: 10/31/2011 in Lain-lain

Jamaah Ikhwanul Muslimin Mesir melakukan kunjungan bersejarah ke Gaza. Ini hanya menggambarkan Jamaah Ikhwan bukan hanya memiliki hubungan yang bersifat emosional dengan rakyat Palestina di Gaza, yang sekarang masih di blokade Israel, tetapi Jamaah Ikhwan memiliki komitmen yang sangat kuat dan teguh bagi pembebasan Palestina dari penjajahan Zionis-Israel.

Jamaah Ikhawnul Muslimin Mesir bukan hanya memiliki hubungan yang bersifat emosional dengan rakyat Palestina, tetapi sejak berdirinya tahun 1928, Jamaah Ikhwan sudah terlibat secara aktif melakukan perjuangan membebaskan wilayah-wilayah Arab yang dijajah Barat, termasuk Mesir dan Palestina.

Di dalam nidzom ‘aam – anggaran dasar Jamaah Ikhwan disebutkan salah satu tujuan didirikan Jamaah Ikhwan, adalah membebaskan negeri-negeri Muslim dari penjajahan. Karena itu, Jamaah Ikhwan dengan sungguh-sungguh berjuang membebaskan negeri-negeri Muslim dari penjajahan Barat. Sampai hari ini.

Kemudian sesudah dua puluh tahun sejak berdirinya Jamaah Ikhwan, pada tahun 1948, ketika negara Zionis-Israel baru di deklarasikan menjadi negara, pendiri Jamaah Ikhwanul Muslimin Hasan al-Banna memobilisasi anggotanya dan seluruh kaum Muslimin di kawasan Mesir dan Arab melakukan jihad membebaskan Palestina. Ribuan anggota Jamaah Ikhwan menyambut seruan Hasan al-Banna pergi berjihad ke Palestina.

Di dalam buku yang ditulis Sheikh Yusuf al-Qardawi, berjudul : “Aku dan Jamaah Ikhwanul Muslimin”, Sheikh Qardawi menceritakan, bagaimana para anggota Jamaah Ikhwan itu dengan penuh semangat menyambut seruan Hasan al-Banna. Mereka mengunjungi kantor Ikhwan di pusat dan kantor-kantor cabang, dan menyatakan kesediaan mereka menyambut seruan Hasan al-Banna, berjihad ke Palestina.

Secara khusus Sheikh Qardawi menceritakan, bagaimana seorang pemuda yang masih duduk di bangku SMU, menyatakan keinginannya ikut berjihad ke Palestina. Abdul Wahab Al-Bitanuni, seorang pemuda yang terlelap tidur, bangkit menyambut seruan jihad Hasan al-Banna. Sampai oleh seorang guru dari Sheikh Qardawi, yaitu Sheikh Al Bahi al-Khuli, mengatakan, “Setiap kali kulihat wajah Abdul Wahab aku seperti melihat darah syahid menetes di wajahnya”.

Sebenarnya, menurut penuturan Sheikh Qardawi, pemuda Abdul Wahab yang masih duduk dibangku SMU, dan dia anak tunggal, ibunya seorang janda, tidak ada lagi yang merawatnya, kecuali Abdul Wahab. Tetapi, keinginannya sangat kuat pergi berjihad ke Palestina. Maka, dengan izin Allah, Sheikh Qardawi mengunjungi ibunya, dan memintakan izin ibunya.

Ibu Abdul Wahab menerima kedatangan Sheikh Qardawi bersama dengan Ikhwan lainnya, dan disampaikan keinginan putranya Abdul Wahab berjihad ke Palestina. Dituturkan oleh Sheikh Qardawi sesudah berdialog dengan ibunya, kemudian dengan lembut ibunya mengizinkan Abdul Wahab pergi berjihad ke Palestina, dan dia ditakdirkan syahid di Palestina.

Hubungan Jamaah Ikhwan di Mesir dengan rakyat Palestina tidak pernah putus sepanjang sejarah. Sampai sekarang. Begitu banyak kader-kader Ikhwan yang syahid di Palestina. Sejak perintah jihad yang diserukan Hasan al-Banna, di tahun l948, sampai hari ini, dan tidak pernah berhenti seruan jihad itu.

Dari generasinya Izzzudin al-Qassam, Sheik Ahmad Yasin, Dr.Rantisi, sampai Ismail Haniyah, kumandang jihad di bumi Palestina terus bergema, membebaskan Palestina dan al-Aqsha menjadi agenda utama perjuangan mereka. Al-Aqsha yang sekarang diduduki Zionis-Israel, menurut Hasan al-Banna, menjadi “qhodiyah asasiyah” (masalah pokok) bagi kaum Muslimin. Selama al-Aqsha masih dibawah pendudukan Israel, maka tidak akan pernah ada kedamaian, dan Palestina itu merupakan tanah yang diwariskan bagi kaum Muslimin.

Karena itu, kunjungan Jamaah Ikhwanul Muslimin ke Jalur Gaza, sebuah momentum bersejarah yang menunjukkan betapa Jamaah Ikhwan dengan rakyat Palestina memiliki ikatan hubungan yang sangat kokoh, berdasarkan nilai-nilai aqidah dan iman.

Kunjungan para pemimpin Jamaah Ikhwan ke Gaza, yang pertama kalinya pada hari Sabtu itu, menandakan perubahan situasi di kawasan Timur Tengah, sejak jatuhnya rezim Honsi Mubarak, yang menjadi “alat” penjajah Zionis-Israel. Selama pemerintahan Hosni Mubarak, tindakan repessif terhadap para pemimpin dan anggota Jamaah Ikhwan terus berlangsung, termasuk terhadap Hamas yang mempunyai relasi langsung dengan Jamaah Ikhwan.

Delegasi Jamaah Ikhwanul Muslimin, dipimpin Wakil Mursyid ‘Aam, Dr.Amin Jum’a, dan bertemu dengan Perdana Menteri Ismail Haniyeh. Amin menyatakan, “Kami berpartisipasi dalam sukacita saudara kami yang dibebaskan Zionis-Israel. Kami bangga dengan mereka,” kata Amin kepada wartawan. “Ini membuktikan kemenangan perjuangan rakyat Palestina”, tambahnya.

Gerakan Jamaah Al-Ikhwan telah mempengaruhi seluruh perubahan di Timur Tengah dan Afrika Utara. Di mana Jamaah Ikhwan telah ada di seluruh kawasan itu, dan terlibat secara aktif dalam dakwah dan perubahan.

Jamaah Ikhwan terus menegaskan komitmennya melakukan pembebasan terhadap wilayah-wilayah di dunia Muslim yang masih dijajah dan dikuasai asing. Ini menjadi salah satu agenda dan prinsip dasar perjuangannya. Jamaah Ikhwan tetap menjadikan Palestina sebagai “qhodiyah asasiyah”, yang akan prioritas utama perjuangannya, sampai Palestina dan Masjidil Aqsha terbebas.

Komitmen itu diwujudkan dalam setiap momentum dan peristiwa secara konstan. Tidak ada kompromi dan mujamalah (tawar-menawar) antara Jamaah Ikhwan dengan Zionis-Israel, sampai wilayah itu bebas dan merdeka, dan Jerusalem menjadi ibukotanya. Wallahu’alam.

http://www.eramuslim.com/editorial/jamaah-ikhwanul-muslimin-melakukan-kunjungan-ke-gaza.htm

Iklan

Komentar ditutup.