Taqwa Membuahkan Furqan

Posted: 10/05/2011 in Hati

Misi penciptaan manusia oleh Allah سبحانه و تعالى ke muka bumi ialah untuk beribadah kepada Allah سبحانه و تعالى semata. Perkara ini harus difahami dan dihayati oleh setiap hamba Allah yang mengaku beriman. Alangkah naifnya bila ada seorang manusia yang berhasil meraih aneka keberhasilan duniawi namun ia tidak memahami bahwa misi hidupnya adalah pengabdian kepada Rabb Pencipta jagat raya yang sejatinya telah mengizinkan dirinya meraih berbagai keberhasilan itu

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi (beribadah) kepada-Ku.” (QS. Adz-Dzaariyat [51] : 56)

Selanjutnya, Allah سبحانه و تعالى menjelaskan bahwa segenap bentuk pengabdian atau ibadah yang dilakukan manusia di dunia hendaklah ditujukan dalam rangka menggapai taqwa kepada Allah سبحانه و تعالى .

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اعْبُدُواْ رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ وَالَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

“Hai manusia, ber-ibadahlah (sembahlah) Rabbmu Yang telah menciptakanmu dan orang-orang yang sebelummu, agar kamu bertakwa.” (QS. Al-Baqarah [2] : 21)

Demikian pula halnya dengan syariat ibadah syiam (berpuasa). Allah سبحانه و تعالى telah mewajibkan orang beriman mengerjakan puasa agar meraih taqwa kepada Allah سبحانه و تعالى .

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (QS. Al-Baqarah [2] : 183)

Taqwa kepada Allah سبحانه و تعالى merupakan perkara yang sedemikian pentingnya, sehingga tidak ada seorangpun khotib jum’at menyampaikan khutbahnya kecuali mesti mengandung nasihat taqwa kepada jama’ah sholat jum’at. Selanjutnya biasanya sang khatib mengutip ayat Al-Qur’an berikut ini:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ اتَّقُواْ اللّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam.” (QS. Ali Imran [3] : 102)

Bila Allah سبحانه و تعالى memerintahkan orang beriman agar bertaqwa kepada Allah dengan sebenar-benar taqwa, berarti ada pula sebagian orang yang mengaku beriman tidak mencapai taqwa yang sebenar-benarnya alias taqwa yang tidak sebagaimana dikehendaki Allah سبحانه و تعالى . Bagaimanakah taqwa yang sebenar-benarnya taqwa itu? Apakah indikatornya?

Ternyata di dalam Al-Qur’an kita jumpai ayat yang menjelaskan bahwa orang yang bertaqwa kepada Allah سبحانه و تعالى niscaya akan memperoleh furqan.

يا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ إن تَتَّقُواْ اللّهَ يَجْعَل لَّكُمْ فُرْقَاناً وَيُكَفِّرْ عَنكُمْ سَيِّئَاتِكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ وَاللّهُ ذُو الْفَضْلِ الْعَظِيمِ

“Hai orang-orang beriman, jika kamu bertakwa kepada Allah, Kami akan memberikan kepadamu Furqaan . Dan kami akan jauhkan dirimu dari kesalahan-kesalahanmu, dan mengampuni (dosa-dosa)mu. Dan Allah mempunyai karunia yang besar.” (QS. Al-Anfaal [8] : 29)

Seorang Muttaqin diberikan Allah سبحانه و تعالى karunia besar berupa “furqan” (kemampuan membedakan antara al-haq/kebenaran dengan al-bathil/kebatilan). Seorang muttaqin tidak mudah hanyut mengikuti arus kebanyakan manusia yang sudah terbiasa mencampur-adukkan keduanya. Jelas ini merupakan buah taqwa yang sangat penting dan mendasar. Inilah di antara indikasi utama seseorang tidak sekedar bertaqwa kepada Allah سبحانه و تعالى tetapi bahkan mencapai sebenar-benarnya taqwa. Dan Allah سبحانه و تعالى melarang keras manusia mencampuradukkan antara al-haq dengan al-bathil.

وَلاَ تَلْبِسُواْ الْحَقَّ بِالْبَاطِلِ وَتَكْتُمُواْ الْحَقَّ وَأَنتُمْ تَعْلَمُونَ

“Dan janganlah kamu campur adukkan yang hak dengan yang bathil dan janganlah kamu sembunyikan yang hak itu, sedang kamu mengetahui.” (QS. Al-Baqarah [2] : 42)

Bila seseorang, apalagi suatu masyarakat, sudah terbiasa mencampuradukkan antara al-haq dengan al-bathil, maka masyarakat itu bakal mengorbankan al-haq dan memenangkan al-bathil. Penulis sangat khawatir bahwa gejala inilah yang telah mendominasi masyarakat kita, sehingga tidak ada satu kasuspun yang terjadi di negeri ini kecuali penyelesaiannya tidak sampai menyentuh akar masalahnya. Mengapa? Karena sebagian besar fihak yang bertanggung-jawab sudah “tahu sama tahu” bahwa mereka semua terlibat di dalam menyembunyikan al-haq. Maka dalam masyaratkat seperti itu selalu saja yang keluar sebagai “pemenang” adalah al-bathil. Itulah yang Allah سبحانه و تعالى sebutkan di dalam ayat di atas. Bahwa jika manusia mengabaikan larangan mencampuradukkan al-haq dengan al-bathil pasti mereka bakal menyembunyikan al-haq. Dan di lain sisi mereka bakal “memenangkan” al-bathil. Dan itu berarti bahwa mayoritas manusia yang mengaku beriman di dalam masyarakat tersebut belum mencapai taqwa kepada Allah سبحانه و تعالى dengan sebenar-benarnya taqwa…! Sebab terbukti bahwa ketaqwaan yang mereka miliki tidak sampai menghasilkan furqan.

Lalu bagaimanakah kita dapat membedakan antara al-haq dengan al-bathil itu? Adakah tolok ukur yang jelas bahwa seseorang telah meraih taqwa yang menghasilkan furqan atau kemampuan membedakan antara al-haq/kebenaran dengan al-bathil/kebatilan? Apalagi kita yang hidup di era modern ini dimana fitnah telah begitu merajalela, sanggupkah kita tetap melihat bahwa yang benar itu adalah benar dan yang batil itu adalah batil? Padahal seruan dan ajakan yang berkumandang dewasa ini sedemikian banyak dan beraneka-macamnya. Kita kenal adanya seruan kepada Islam, kapitalisme, komunisme, liberalisme, sosialisme, pluralisme, humanisme, sekularisme, hedonisme, pragmatisme, ateisme, demokrasi, nasionalisme dan lain-lainnya.

Kalau kita merujuk kepada ucapan Allah سبحانه و تعالى di dalam Kitabullah Al-Qur’an, ternyata betapapun banyak dan beraneka-ragamnya seruan di tengah dunia modern penuh fitnah dewasa ini, pada akhirnya Allah سبحانه و تعالى menerangkan bahwa pada hakikatnya hanya ada dua seruan saja: ajakan kepada al-haq/kebenaran dan ajakan kepada al-bathil/kebatilan. Tidak ada bentuk ajakan selain kedua jenis tersebut.

ذَلِكَ بِأَنَّ اللَّهَ هُوَ الْحَقُّ وَأَنَّ مَا يَدْعُونَ مِن دُونِهِ هُوَ الْبَاطِلُ وَأَنَّ اللَّهَ هُوَ الْعَلِيُّ الْكَبِيرُ

“Kuasa Allah, yang demikian itu adalah karena sesungguhnya Allah, Dialah Al-Haq (kebenaran) dan sesungguhnya apa saja yang mereka seru selain dari Allah, itulah Al-Bathil (kebatilan), dan sesungguhnya Allah, Dialah Yang Maha Tinggi lagi Maha Besar.” (QS. Al-Hajj [22] : 62)

Berdasarkan ayat di atas berarti tolok-ukur perkara furqan ini menjadi sangat sederhana. Barangsiapa mengajak kepada Allah سبحانه و تعالى berarti ia mengajak kepada al-haq/kebenaran. Dan barangsiapa mengajak kepada selain Allah سبحانه و تعالى berarti ia sedang mengajak manusia kepada al-bathil/kebatilan.

Artinya, bilamana ada seseorang atau suatu kelompok, golongan atau partai mengaku dirinya sebagai “pembela kebenaran”, maka kita tinggal minta mereka menjelaskan: apa sih yang anda maksud dengan kebenaran? Jika penjelasannya panjang lebar, berputar-putar dan menggunakan berbagai istilah dan uraian canggih namun pada intinya tidak secara tegas dan jelas menyatakan bahwa kebenaran yang dibela adalah Allah سبحانه و تعالى dan segala yang terkait dengan Allah سبحانه و تعالى (yakni nilai-nilai Ilahi, dien Allah, aturan Allah serta hukum Allah) berarti orang dan kelompok tersebut berdusta. Mereka sesungguhnya tidak membela al-haq/kebenaran. Sebab jelas sekali Allah berfirman bahwa “Kuasa Allah, yang demikian itu adalah karena sesungguhnya Allah, Dialah Al-Haq (kebenaran)…” Dan sebaliknya Allah سبحانه و تعالى menyatakan bahwa: “…dan sesungguhnya apa saja yang mereka seru selain dari Allah, itulah Al-Bathil (kebatilan)…” Allah menghendaki agar setiap mukmin hanya dan hanya mengajak kepada kebenaran yang datangnya dari Allah Rabb semesta alam bukan selain daripada itu. Artinya, setiap “pejuang kebenaran” sejati hanya mengajak manusia ramai untuk menuju kepada Allah saja dan apa-apa yang berkaitan dengan Allah. Ia hanya mengajak manusia kepada dien Allah, nilai-nilai Allah dan hukum Allah, bukan yang selain daripada itu.

Dan perlu diketahui pula bahwa mampu membedakan antara al-haq dengan al-bathil merupakan perkara yang perlu ditindak-lanjuti lebih jauh lagi. Sebab faktanya ada orang yang sanggup membedakan antara kebenaran dengan kebatilan. Tetapi nyatanya ia tidak mau atau tidak sanggup berfihak kepadanya. Demikian pula, ada orang yang sudah tahu bahwa yang batil itu batil, tetapi ia tidak mau atau tidak sanggup meninggalkan/menjauhinya. Kepada “al-haq” itulah setiap mukmin memberikan wala’-nya (loyalitas) sebagai aplikasi kalimat istbat (peneguhan) “ill-Allah”. Dan kepada “al-bathil” atau “adh-dholal” (kesesatan) ia melakukan bara’ah-nya (pemutusan hubungan) sebagai aplikasi kalimat nafyi (penafian) “Laa ilaaha”.

Oleh karenanya doa yang kita panjatkan kepada Allah سبحانه و تعالى berbunyi:

اللهم أرنا الحق حقا وارزقنا اتباعه وأرنا الباطل باطلا وارزقنا اجتنابه إنك سميع مجيب

“Ya Allah, tunjukkanlah kepada kami bahwa yang benar itu adalah benar dan berilah kami kemampuan untuk mengikutinya. Dan tunjukkanlah kepada kami bahwa yang batil itu adalah batil dan berilah kami kemampuan untuk menjauhinya. Sesungguhnya Engkau Maha Mendengar lagi Maha Mengabulkan doa.”

Seorang Muttaqin tidak puas hanya dengan kemampuan melihat yang benar sebagai kebenaran. Tapi lebih jauh lagi ia memohon kepada Allah agar dirinya memiliki wala’ (loyalitas) untuk selalu berfihak kepadanya. Demikian pula, ia tidak puas hanya dengan kemampuan melihat yang batil sebagai kebatilan, tetapi ia memohon lebih lanjut agar dirinya senantiasa bara (berlepas diri/memutuskan hubungan) dengan al-bathil.

http://www.eramuslim.com/suara-langit/undangan-surga/taqwa-membuahkan-furqan.htm

Komentar ditutup.