Bom Solo, Antara Jihad, Konspirasi, dan Bid’ah

Posted: 10/04/2011 in Akidah

Oleh Hartono Ahmad Jaiz

Imam al-Ghazali (w.505H) berkata : “Sesungguhnya mengusap dan mencium kuburan merupakan adat kaum Yahudi dan Nasrani”. (Ihya’ Ulumiddin I/254).

Makanya dalam melontarkan pendapat yang merugikan Islam pun para pengusung bid’ah itu senada dengan yang mereka tirukan itu.

Inilah uraiannya.

***

PADA TANGGAL 25 September 2011 lalu, terjadi ledakan di Gereja Bethel Injil Sepenuh (GBIS), Kepunton, Solo, Jawa Tengah. Aparat mengidentifikasinya sebagai bom bunuh diri yang dilakukan oleh Ahmad Yosepa Hayat (kelahiran Cirebon, 19 Oktober 1980) alias Hayat alias Ahmad Abu Daud alias Raharjo, yang selama ini masuk DPO (daftar pencarian orang) polisi dalam kasus bom bunuh diri di Masjid Adz-Dzikra Mapolresta Cirebon, Jawa Barat, yang terjadi 15 April 2011 dan dilakukan oleh Muhammad Syarif.

Ternyata, menurut penjelasan aparat kepolisian, antara Bom Solo dengan Bom Cirebon berkaitan erat. Ahmad Yosepa dan Muhammad Syarif pada Oktober 2010 sama-sama pernah megikuti semacam pelatihan di perbatasan Ciamis-Garut, Jawa Barat. Bahkan pada saat itu Ahmad Yosepa sudah disiapkan menjadi ‘pengantin’ atau eksekutor bom bunuh diri.

Jarak eksekusi bom bunuh diri antara Muhammad Syarif dan Ahmad Yosepa sekitar lima bulan sepuluh hari. Bedanya, bom bunuh diri yang dilakukan Muhammad Syarif diledakkan di Masjid Adz-Dzikra Mapolresta Cirebon. Sedangkan bom bunuh diri yang diledakkan Ahmad Yosepa mengambil tempat di Gereja Bethel Injil Sepenuh (GBIS), Kepunton, Solo.

Bagi Muhammad Syarif, bom bunuh diri yang dilakukannya adalah jihad. Begitu juga dengan anggapan Ahmad Yosepa. Keduanya juga pernah bersentuhan dengan JAT (Jama’ah Ansharut Tauhid) pimpinan Abu Bakar Ba’asyir. Bahkan Ahmad Yosepa sebelum bersentuhan dengan JAT, juga pernah bersentuhan dengan MMI (Majelis Mujahidin Indonesia).

Bila Syarif dan Yosepa meyakini bom bunuh diri yang dilakukannya adalah jihad, namun tidak demikian bagi yang lain. Bahkan, ada seorang khatib shalat Jum’at di sebuah masjid yang menjadikan kasus bom bunuh diri tersebut sebagai alasan pembenar bahwa bid’ah yang mereka jajakan dan praktikkan selama ini adalah benar. Antara lain dikatakan, bahwa saat ini ada fenomena tak lazim, yaitu ada anak muda yang mem-bid’ah-kan maulidan, mem-bid’ah-kan ziarah kubur, membid’ah-kan ini dan itu tetapi ‘menghalalkan’ bom masuk mesjid untuk diledakkan.

Dari pendapat khatib serampangan itu tergambarlah di saat kenyataan adanya serangkain aksi bom bunuh diri dan sejumlah peristiwa teror bom yang berlangsung selama ini, para pengusung bid’ah dholalah seolah mendapatkan kekuatan untuk mengolok-olok dakwah Islam yang hanif dan bersih dari praktik bid’ah maupun praktik syirkiyah.

Dakwah Islam yang hanif dan bersih dari praktik bid’ah maupun praktik syirkiyah ini, oleh para pengusung bid’ah dholalah, selain diberi label wahabisme juga dikait-kaitkan dengan gerakan teror seperti bom bunuh diri yang akhir-akhir ini terjadi. Sehingga timbullah slogan atau kampanye bernuansa olok-olok di kalangan mereka, seperti: “giliran maulid dibilang bid’ah, baca al-fatihah di kuburan dibilang bid’ah dholalah, eh… giliran bawa bom ke mesjid, ke tempat-tempat ibadah dibilang halal…”

Para pengusung bid’ah juga mengidentifikasi bahwa pelaku bom bunuh diri sebagaimana terjadi di Solo dan Cirebon adalah mereka yang berpaham wahabi-salafy yang gemar mengkafirkan orang lain dan mem-bid’ah-kan sejumlah praktek ‘ibadat’ yang mereka yakini benar selama ini: ziarah kubur syirkiyah (ketika sampai meminta kepada isi kubur), maulidan, adzan di atas kuburan untuk menyertai prosesi pemakaman, tahlilan dalam rangka kematian, dan sebagainya.

Identifikasi para pengusung bid’ah itu nampaknya sejalan dengan identifikasi Sidney Jones (Direktur ICG), yang dalam salah satu komentarnya di sebuah teve swasta mengatakan, bahwa para pelaku bom bunuh diri belakangan ini, adalah mereka yang selama ini terlibat aktif di dalam gerakan anti maksiat, anti pemurtadan, dan anti aliran sesat seperti Ahmadiyah. Faktanya memang demikian. Muhammad Syarif pernah terlibat di GAPAS (Gerakan Anti Pemurtadan dan Aliran Sesat), begitu juga dengan Ahmad Yosepa yang merupakan rekan seperjuangan Syarif di kawasan Cirebon dan sekitarnya.

Bagaimanapun, teror bom bunuh diri sebagaimana pernah terjadi selama ini, sesungguhnya tidak pernah memberikan manfaat bagi Islam dan umat Islam. Justru, gara-gara aneka bom seperti itu, umat Islam menjadi pihak yang dirugikan, menjadi tertuduh, terbebani secara psiko-sosiologis. Bahkan boleh jadi para pentolan lembaga pengusung bid’ah menjadi semakin berani membuat perbandingan yang ngawur. Misalnya, ajakan jihad dikatakan haram, sementara itu ajakan bermaksiat melalui situs porno dikatakan makruh.

Jihad adalah sesuatu yang mulia. Bunuh diri dengan alasan jihad sekalipun adalah hal yang rancu, salah, bahkan tercela. Begitu juga dengan pornografi di situs-situs internet adalah haram dan dilaknat Allah. Membandingkan ‘jihad’ (dalam makna bunuh diri) dengan melakukan kunjungan ke situs porno, jelas seperti membandingkankan dua kesalahan dengan kesalahan, alias tidak ada bedanya. Namun mengolok-olok jihad yang mulia dengan memperbandingkannya dengan pornografi yang diposisikan makruh, jelas perbuatan orang yang tidak punya tanggung jawab moral terhadap upaya meluhurkan Islam, menegakkan kalimat Allah.

Berjihad di jalan Allah, selain melawan orang kafir yang menindas umat Islam, melawan orang kafir yang menghalang-halangi dakwah Islam, juga dapat berupa memerangi aneka bid’ah dan praktik kemusyrikan yang menyertai ibadah. Jihad seperti inilah yang hendak difitnah para pengusung bid’ah dengan mengaitkannya dengan bom bunuh diri yang pernah terjadi selama ini. Upaya tersebut jelas merupakan perbuatan keji.

Dengan demikian, sudah jelas bagi kita, bahwa teror bom bunuh diri, dan serangkaian bom lainnya yang selama ini pernah terjadi adalah kontraproduktif bagi dakwah Islam yang hanif dan bersih dari praktik bid’ah maupun syirkiyah.

Sejumlah tokoh berpendapat, bom bunuh diri Solo (25 Sep 2011) adalah upaya pengalihan isu. Barangkali, maksudnya untuk menutupi gencarnya pemberitaan tentang skandal korupsi yang melibatkan elite negara dengan nilai triliunan rupiah. Ada juga yang berpendapat bahwa bom bunuh diri dan serangkaian bom lainnya yang pernah terjadi selama ini adalah jebakan intelijen dalam rangka memojokkan Islam.

Kalau memang demikian, maka para pelaku bom bunuh diri di Cirebon, Solo, Bali dan aneka teror bom lainnya, tidak bisa dikatakan sebagai mujahid Islam. Lha wong mereka cuma ‘korban’ rekayasa sekelompok orang yang lebih pintar dan lebih kuat. Boleh jadi, mereka (para pelaku bom itu) bisa dikategorikan sebagai orang yang terpeleset hingga sadar atau tidak telah tolong-menolong di dalam memfitnah Islam, merusak citra Islam, dan menghambat dakwah Islam yang hanif dan bersih dari praktik bid’ah maupun praktik syirkiyah.

Kalau toh aksi bom bunuh diri dan serangkaian teror bom yang selama ini pernah terjadi adalah murni dari inisiatif dan ijtihad jihad mereka, namun belum tentu secara otomatis mereka bisa disebut mujahid. Karena, cara yang mereka lakukan sangat kontroversial, sangat jauh dari kesepakatan jumhur ulama, dan bertentangan dengan Islam. Bahkan cenderung mencari-cari pembenaran dengan landasan dalil yang rapuh.

Sayangnya, pada kenyataannya masih ditemukan sikap umat dan tokoh Islam yang membingungkan. Pada satu sisi mengatakan bahwa bom bunuh diri dan serangkaian aksi teror bom yang terjadi selama ini bukanlah bagian dari jihad Islam, tetapi merupakan rekayasa penguasa dan intelejen; namun pada sisi lain tetap memposisikan pelakunya sebagai mujahid.

Dalam kasus Bom Bali pertama, misalnya, seorang tokoh pergerakan mengatakan bahwa orang Amerika, Australia dan Inggris yang sedang berada di Bali, bukanlah sosok yang layak dijadikan target bom jihad. Meski mereka dalam suasana yang cenderung kepada hura-hura bahkan maksiat, namun mereka tidak dalam posisi memerangi Islam. Bahkan ia juga mengatakan, bahwa kawasan Indonesia belum termasuk medan jihad. Namun, ketika pelaku bom Bali pertama dieksekusi mati, sang tokoh pergerakan itu dengan pasti menggelari ketiganya sebagai mujahid Islam. Bahkan sang tokoh, berada di tengah-tengah massa yang menyambut ketiga jenazah tereksekusi pelaku bom Bali pertama hingga prosesi pemakamannya.

Sikap sang tokoh tadi jelas membingungkan. Karena ia telah menggelari seseorang atau sejumlah orang dengan predikat mujahid, namun apa-apa yang dilakukannya dinilai bertentangan dengan Islam. Ataukah sang tokoh sedang ber-taqiyah? Kalau benar sedang ber-taqiyah, maka perlu diketahui bahwa taqiyah adalah ibadahnya kaum syi’ah. Sedangkan syi’ah itu merupakan induk kesesatan. (haji/tede/nahimunkar.com).

http://www.eramuslim.com/syariah/tsaqofah-islam/hartono-ahmad-jaiz-bom-solo-antara-jihad-konspirasi-dan-bid-ah.htm

Iklan

Komentar ditutup.