Bimbingan Islam Untuk Perbaikan Rumah Tangga

Posted: 06/08/2011 in Hati, Keluarga

Ustadz Abdullah Taslim. MA

Kedamaian dan ketenangan dalam rumah tangga tentu merupakan dambaan dan obsesi setiap insan. Betapa tidak, seorang manusia dengan segala problem yang dihadapinya di luar rumah, ditambah lagi dengan kepenatan badan dan keletihan pikiran, tentu saja dia sangat berharap semua itu akan bisa dilepaskannya ketika dia memasuki rumahnya dan bertemu dengan orang-orang yang dicintainya, serta mendapati suasana rumah yang teduh dan penuh kedamaian.

Inilah gambaran kondisi rumah tangga yang dikehendaki dalam Islam, bahkan ini termasuk tujuan utama disyariatkannya pernikahan yang islami. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

{وَمِنْ آَيَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُمْ مِنْ أَنْفُسِكُمْ أَزْوَاجًا لِتَسْكُنُوا إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُمْ مَوَدَّةً وَرَحْمَةً إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآَيَاتٍ لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ}

“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa cinta dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berpikir” (QS ar-Ruum: 21).

Dalam ayat lain, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

{وَالَّذِينَ يَقُولُونَ رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَاماً}

“Dan (mereka adalah) orang-orang yang berdoa: “Ya Rabb kami, anugerahkanlah kepada kami isteri-isteri dan keturunan kami sebagai penyejuk (pandangan) mata (kami), dan jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa” (QS al-Furqan:74).

Pentingnya perbaikan rumah tangga

Ada beberapa faktor penting yang memotivasi seorang muslim yang menghendaki kebaikan dan keselamatan dirinya di dunia dan akhirat, untuk mengupayakan perbaikan dalam rumah tangganya secara maksimal, di antaranya:

1- Penjagaan diri dan keluarga dari siksaan neraka. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

{يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَاراً وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ}

“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu” (QS at-Tahriim:6).

Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu, ketika menafsirkan ayat di atas, beliau berkata: “(Maknanya): Ajarkanlah kebaikan untuk dirimu dan keluargamu”[1].

2- Tanggung jawab besar sebagai pemimpin rumah tangga di hadapan Allah Subhanahu wa Ta’ala pada hari kiamat kelak.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“ألا كلكم راع وكلكم مسئول عن رعيته، … والرجل راع على أهل بيته وهو مسئول عنهم”

“Ketahuilah, kalian semua adalah pemimpin dan kalian semua akan dimintai pertanggungjawaban tentang apa yang dipimpinnya…seorang suami adalah pemimpin (keluarganya) dan dia akan dimintai pertanggungjawaban tentang mereka”[2].

3- Fungsi rumah sebagai tempat untuk menjaga dan keluarga dari berbagai macam keburukan, bahkan sebagai tempat berlindung dari fitnah yang menyesatkan.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Beruntunglah seorang yang mampu menjaga lisannya, merasa lapang (dengan berada) di rumahnya dan (selalu) menangis atas perbuatan dosanya”[3].

Dalam hadits lain, beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Selamatnya seseorang ketika terjadi fitnah adalah dengan menetapi rumahnya” [4].

Bimbingan Islam untuk perbaikan rumah tangga

1. Memilih istri yang baik (shalihah) untuk kebaikan rumah tangga

Istri yang baik adalah sebaik-baik keindahan di dunia yang akan membahagiakan dan menyenangkan hati orang yang beriman. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Dunia ini adalah perhiasan dan sebaik-baik perhiasan dunia adalah perempuan yangh shalihah”[5].

Dalam hadits lain, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan sifat-sifat istri shalihah yang membahagiakan hati suaminya, dalam sabda beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Sebaik-baik perempuan adalah yang menyenangkan suaminya ketika dia memandangnya, mentaati apa yang diperintahkannya dan menjaga (kepercayaan) suaminya pada diri dan hartanya”[6].

Sebagaimana istri yang baik adalah sebaik-baik penolong – setelah Allah Subhanahu wa Ta’ala – bagi seorang muslim untuk perbaikan agama dan iman dalam rumah tangganya. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sebaik-baik harta bagi seorang hamba adalah lidah yang selalu berzikir, hati yang selalu bersyukur (kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala) dan istri yang beriman yang selalu membantunya dalam (meningkatkan) imannya (kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala)”[7].

2. Menjadikan rumah sebagai tempat berzikir kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Perumpamaan rumah yang disebut nama Allah di dalamnya dan rumah yang tidak disebut nama Allah di dalamnya adalah seperti perumpaan orang yang hidup dan orang yang mati”.

Imam an-Nawawi rahimahullah berkata: “Dalam hadits ini terdapat anjuran untuk (banyak) berzikir kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala di rumah”[8].

Berzikir kepada Allah di sini bersifat umum, baik dengan lisan maupun hati, termasuk membaca al-Qur’an, malaksanakan shalat-shalat sunnah, mendengarkan kajian agama Islam, membaca buku-buku yang bermanfaat dan lain-lain.

Termasuk dalam pengertian hadits ini adalah menjauhkan rumah dari segala sesuatu yang bertentangan dengan zikir kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, seperti nyanyian dan alat musik yang diharamkan dalam Islam[9], bahkan dalam hadits yang shahih[10] Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam membenarkan penamaan nyanyian sebagai “seruling setan”[11].

Bagaimana mungkin akan terwujud kebaikan dan kebahagiaan dalam rumah yang dipenuhi dengan nyanyian setan, padahal sifat setan sebagaimana yang Allah Subhanahu wa Ta’ala gambarkan dalam firman-Nya:

{إِنَّمَا يَأْمُرُكُمْ بِالسُّوءِ وَالْفَحْشَاءِ وَأَنْ تَقُولُوا عَلَى اللَّهِ مَا لا تَعْلَمُونَ}

“Sesungguhnya setan itu hanya menyuruh kamu berbuat jahat dan keji, dan mengatakan tentang Allah apa yang tidak kamu ketahui” (QS al-Baqarah:169).

3. Menjadikan rumah selalu dimakmurkan dengan ibadah shalat

Maksudnya adalah shalat-shalat sunnah bagi laki-laki, karena shalat-shalat yang wajib tempatnya adalah di masjid secara berjama’ah.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

{وَأَوْحَيْنَا إِلَى مُوسَى وَأَخِيهِ أَنْ تَبَوَّآ لِقَوْمِكُمَا بِمِصْرَ بُيُوتًا وَاجْعَلُوا بُيُوتَكُمْ قِبْلَةً وَأَقِيمُوا الصَّلاةَ وَبَشِّرِ الْمُؤْمِنِينَ}

“Dan Kami wahyukan kepada Musa dan saudaranya: “Ambillah olehmu berdua beberapa buah rumah di Mesir untuk tempat tinggal bagi kaummu dan jadikanlah olehmu rumah-rumahmu itu tempat shalat dan dirikanlah olehmu shalat serta berilah kabar gembira bagi orang-orang yang beriman” (QS Yunus:87).

Imam Ibnu Katsir rahimahullah ketika menafsirkan ayat ini, beliau berkata: “Sepertinya (makna ayat) ini – dan Allah yang lebih mengetahuinya –: ketika bencana dan siksaan yang ditimpakan Fir’aun dan bala tentaranya kepada Nabi Musa ‘alaihis salam dan umatnya semakin dasyat maka Allah memerintahkan mereka untuk banyak melaksanakan shalat (di rumah-rumah mereka sebagai penolong bagi mereka), sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

{يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلاةِ}

“Hai orang-orang yang beriman, jadikanlah sabar dan salat sebagai penolongmu” (QS al-Baqarah:153).

Dan dalam sebuah hadist: “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam jika ditimpa suatu (kesusahan) maka beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam (segera) melaksanakan shalat”, diriwayatkan oleh imam Abu Dawud rahimahullah”[12] [13].

Bahkan dalam hadits lain Rasululah Shallallahu ‘alaihi wa sallam secara nyata menggambarkan fungsi shalat sebagai penyejuk dan penghibur hati orang yang beriman. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Allah menjadikan qurratul ‘ain bagiku pada (waktu aku melaksanakan) shalat”[14].

Makna qurratul ‘ain adalah sesuatu yang menyejukkan dan menyenangkan hati[15].

Dalam hadits lain, beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada Bilal radhiyallahu ‘anhu:

“Wahai Bilal, senangkanlah (hati) kami dengan (melaksanakan) shalat”[16].

4. Pembinaan keimanan bagi anggota keluarga

Yaitu dengan memerintahkan dan membimbing mereka untuk terbiasa melakukan kebaikan dan amalan shaleh serta menjauhi semua larangan Allah Subhanahu wa Ta’ala, meskipun kepada anak yang belum dewasa.

Syaikh Abdurrahman as-Sa’di rahimahullah ketika menjelaskan makna firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

{يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَاراً وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ}

“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu” (QS at-Tahriim:6).

Beliau rahimahullah berkata: “Memelihara diri (dari api neraka) adalah dengan mewajibkan bagi diri sendiri untuk melaksanakan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya, serta bertobat dari semua perbuatan yang menyebabkan kemurkaan dan siksa-Nya. Adapun memelihara istri dan anak-anak (dari api neraka) adalah dengan mendidik dan mengajarkan kepada mereka (syariat Islam), serta memaksa mereka untuk (melaksanakan) perintah Allah. Maka seorang hamba tidak akan selamat (dari siksaan neraka) kecuali jika dia (benar-benar) melaksanakan perintah Allah (dalam ayat ini) pada dirinya sendiri dan pada orang-orang yang dibawa kekuasaan dan tanggung jawabnya”[17].

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Semoga Allah merahmati seorang laki-laki yang bangun di malam hari lalu dia melaksanakan shalat (malam), kemudian dia membangunkan istrinya, kalau istrinya enggan maka dia akan memercikkan air pada wajahnya…”[18].

Dalam hadits yang lain, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah melarang Hasan bin ‘Ali radhiyallahu ‘anhum memakan kurma sedekah, padahal waktu itu Hasan radhiyallahu ‘anhum masih kecil, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Hekh hekh” agar Hasan membuang kurma tersebut, kemudian beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Apakah kamu tidak mengetahui bahwa kita (Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan keturunannya) tidak boleh memakan sedekah?”[19].

Imam Ibnu Hajar rahimahullah menyebutkan di antara kandungan hadits ini adalah bolehnya membawa anak kecil ke mesjid dan mendidik mereka dengan adab yang bermanfaat (bagi mereka), serta melarang mereka melakukan sesuatu yang membahayakan mereka sendiri, (yaitu dengan) melakukan hal-hal yang diharamkan (dalam agama), meskipun anak kecil belum dibebani kewajiban syariat, agar mereka terlatih melakukan kebaikan tersebut[20].

Syaikh Bakr Abu Zaid rahimahullah berkata: “Termasuk (pembinaan) awal yang diharamkan (dalam Islam) adalah memakaikan pada anak-anak kecil pakaian yang menampakkan aurat, karena ini semua menjadikan mereka terbiasa dengan pakaian dan perhiasan tersebut (sampai dewasa), padahal pakaian tersebut menyerupai (pakaian orang-orang kafir), menampakkan aurat dan merusak kehormatan”[21].

5. Mempraktekkan zikir-zikir yang disyariatkan dan sunnah-sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang berkenaan dengan rumah

Seperti zikir ketika masuk rumah, Dari Jabir bin Abdillah radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Jika seseorang masuk ke dalam rumahnya dan menyebut (nama) Allah ketika masuk dan ketika makan (maka pada waktu itu) setan berkata (kapada teman-temannya): “Tidak ada tempat menginap dan makanan bagi kalian”. Tapi jika dia masuk (rumahnya) dan tidak menyebut (nama) Allah ketika masuk, maka setan berkata: “Kalian mendapat tempat menginap”. Dan jika dia tidak menyebut (nama) Allah ketika makan maka setan berkata: “Kalian mendapat tempat menginap dan makanan”[22].

Juga zikir ketika keluar rumah. Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Jika seseorang keluar dari rumahnya lalu membaca (zikir): Bismillahi tawakkaltu ‘alallahi, walaa haula wala quwwata illa billah (Dengan nama Allah, aku berserah diri kepada-Nya, dan tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan-Nya), maka malaikat akan berkata kepadanya: “(sungguh) kamu telah diberi petunjuk (oleh Allah Ta’ala), dicukupkan (dalam segala keperluanmu) dan dijaga (dari semua keburukan)”, sehingga setan-setanpun tidak bisa mendekatinya, dan setan yang lain berkata kepada temannya: Bagaimana (mungkin) kamu bisa (mencelakakan) seorang yang telah diberi petunjuk, dicukupkan dan dijaga (oleh Allah Ta’ala)?”[23].

Membaca surat al-Baqarah dalam rumah juga sangat dianjurkan untuk mengusir setan dari rumah. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Janganlah kamu menjadikn rumahmu (seperti) kuburan (dengan tidak pernah mengerjakan shalat dan membaca al-Qur’an di dalamnya), sesungguhnya setan akan lari dari rumah yang dibaca di dalamnya surat al-Baqarah”[24].

Demikian juga bersiwak (membersihkan mulut dengan kayu siwak atau lainnya) ketika masuk rumah. Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika masuk ke dalam rumah yang pertama kali (beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam lakukan adalah) bersiwak[25].

6. Memakmurkan rumah dengan pengajaran ilmu agama.

Dengan membiasakan diri dan anggota keluarga memanfaatkan waktu dan mengisinya dengan ilmu agama yang bermanfaat, baik melalui pengajian Islam yang benar, mendengarkan rekaman ceramah agama atau membaca buku-buku Islam yang bermanfaat.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

{يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَاراً وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ}

“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu” (QS at-Tahriim:6).

Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu ketika menafsirkan ayat di atas berkata: “(Maknanya): Ajarkanlah kebaikan untuk dirimu dan keluargamu”[26].

Syaikh Abdurrahman as-Sa’di rahimahullah berkata: “Memelihara diri (dari api neraka) adalah dengan mewajibkan bagi diri sendiri untuk melaksanakan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya, serta bertobat dari semua perbuatan yang menyebabkan kemurkaan dan siksa-Nya. Adapun memelihara istri dan anak-anak (dari api neraka) adalah dengan mendidik dan mengajarkan kepada mereka (syariat Islam), serta memaksa mereka untuk (melaksanakan) perintah Allah. Maka seorang hamba tidak akan selamat (dari siksaan neraka) kecuali jika dia (benar-benar) melaksanakan perintah Allah (dalam ayat ini) pada dirinya sendiri dan pada orang-orang yang dibawa kekuasaan dan tanggung jawabnya”[27].

Imam al-Bukhari rahimahullah dalam kitab “Shahih al-Bukhari” mencantumkan sebuah bab: “(Kewajiban) seorang laki-laki (untuk) mengajarkan ilmu (agama) kepada budak (yang dimiliki)nya dan anggota keluarganya”[28]. Kemudian beliau menyitir sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Ada tiga orang (golongan manusia) yang akan mendapatkan dua pahala (sekaligus)…(yang ketiga): seorang laki-laki yang memiliki seorang budak perempuan lalu dia mendidiknya dengan baik dan mengajarkan ilmu (agama) kepadanya, kemudian dia membebaskannya dan menikahinya, maka laki-laki ini akan mendapatkan dua pahala”[29].

Imam Ibnu Hajar menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan kewajiban mengajarkan ilmu agama tentang kewajiban-kewajiban dalam Islam dan sunnah-sunna Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada anggota keluarga, karena memberikan perhatian dalam masalah ini terhadap mereka lebih ditekankan kewajibannya dari pada terhadap budak yang dimiliki seseorang[30].

Penutup

Demikianlah penjelasan ringkas tentang bimbingan Islam untuk perbaikan diri dan keluarga, semoga bermanfaat bagi kaum muslimin yang menginginkan kebaikan dan kebahagiaan dalam rumah tangganya di dunia dan akhirat kelak, insya Allah Ta’ala.

وصلى الله وسلم وبارك على نبينا محمد وآله وصحبه أجمعين، وآخر دعوانا أن الحمد لله رب العالمين

Kota Kendari, 5 Jumadal ula 1432 H

Abdullah bin Taslim al-Buthoni
Artikel: http://www.ibnuabbaskendari.wordpress.com

http://ibnuabbaskendari.wordpress.com/2011/06/02/bimbingan-islam-untuk-perbaikan-rumah-tangga

Komentar ditutup.