Ihsan

Posted: 05/27/2011 in Hati

Syaikh Abdul Muhsin Al-Abbad

Ihsan secara bahasa adalah lawan dari perbuatan buruk. Dan secara istilah adalah mendatangkan (sesuatu) yang dituntut secara syar’i di atas segi yang baik. Dan sungguh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menjelaskan (makna) ihsan pada hadits Jibril yang terkenal ketika malaikat Jibril ‘alaihis salam menanyainya tentang islam dan iman maka Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab keduanya, dan jawaban Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika malaikat Jibril ‘alaihis salam menanyai Nabi tentang perbuatan Ihsan maka Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “kamu beribadah kepada Allah seakan-akan kamu melihat-Nya. Maka jika kamu tidak dapat melihat-Nya maka sesungguhnya Dia (Allah) melihatmu”.

Maka sungguh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menjelaskan makna al-ihsan pada hadits yang diriwayatkan oleh imam muslim ini, agar seseorang melakukan sesuatu yang dengannya ia beribadah kepada Allah Ta’ala seakan-akan dia itu berdiri di hadapan Allah, dan yang demikian ini memerlukan kesempurnaan rasa takut dan inabah (kembali) kepada Allah Ta’ala dan mengharuskan/wajib untuk melaksanakan ibadah sesuai langkah yang Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menempuhnya.

Jawaban Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengandung penjelasan sebab yang mendorong kepada perbuatan ihsan bagi siapa saja yang belum sampai pada derajat dan kedudukan yang tinggi ini. Ingatlah! Jawaban itu adalah peringatan kepada pelaku ibadah bahwasanya Allah mengawasi dirinya, tidak tersembunyi bagi Allah sesuatu pun dari perbuatan-perbuatannya. Dan Allah akan membalasnya atas perbuatan tersebut, jika (perbuatan itu) baik, maka (balasannya) baik dan jika buruk maka buruk. Dan tidak diragukan lagi bahwasannya seorang yang berakal ketika dia mengingat bahwasannya Allah mengawasinya (maka) ia akan memperbaiki amalannya karena berharap apa yang adan di sisi Allah berupa ganjaran bagi orang-orang yang berbuat baik dan takut dari siksaan yang Allah janjikan pada orang-orang yang berbuat jelek.

Allah Ta’ala berfirman :

إن في ذلك لذكرى لمن كان له قلب أو ألقى السمع وهو شهيد

“Sungguh pada yang demikian itu pasti terdapat peringatan bagi orang-orang yang mempunyai hati atau yang menggunakan pendengarannya sedang dia menyaksikaní” (QS. Qoof : 37)

KEUTAMAAN PERBUATAN IHSAN

Dan karena perhatian islam terhadap ihsan dan agungnya kedudukan ihsan tersebut (maka) Allah subhana wa ta’ala mengagungkan keutamaannya dan mengkhabarkan di dalam kitabnya yang mulia bahwasanya dia menyukai orang-orang yang berbuat ihsan dan Allah bersama mereka dan cukuplah yang demikian itu sebagai keutama’an dan kemulia’an, Allah Ta’ala berfirman :

وأحسنوا إن الله يحب المحسنين

“Dan berbuat baiklah sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik.“ (QS al-baqoroh :195)

Allah Ta’ala berfirman :

والذين جاهدوا فينا لنهدينهم سبلنا وإن الله لمع المحسنين

“Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhoan) kami,kami akan tunjukkan kepada mereka jalan-jalan kami.dan sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang berbuat baik “(QS Al-Ankabut : 69)

BALASAN ORANG-ORANG YANG BERBUAT BAIK

Dan termasuk rahmat Allah Ta’ala dan karunianya adalah menjadikan balasan sesuai jenis amal, dan termasuk yang demikian itu adalah bahwasanya Allah Ta’ala menjadikan balasan perbuatan baik dengan kebaikan pula sebagaimana dalam firman-Nya :

هل جزاء الإحسان إلا الإحسان

“Tidak ada balasan untuk kebaikan selain kebaikan (pula)” (QS Ar-Rahman : 60)

Maka barang siapa yang memperbaiki amalannya maka Allah Ta’ala membaikkan balasannya,dan sungguh Allah Ta’ala telah menjelaskan dalam kitab-Nya yang mulia balasan orang yang berbuat baik dan merupakan seagung-agung dan sesempurna-sempurna balasan. Maka Allah Ta’ala berfirman:

للذين أحسنوا الحسنى وزيادة

“Bagi orang-orang yang berbuat baik al-husna (pahala yang terbaik) dan tambahannya” (QS. Yunus: 26)

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menafsirkan ayat ini sebagaimana Imam Muslim meriwayatkan dalam shohihnya dari Shuhaib radhiyallahu ‘anhu bahwasanya (makna) al-husna adalah surga dan makna ziyadah adalah melihat wajah Allah ‘Azza wa jalla.

Maka orang-orang yang berbuat ihsan yang dia menyembah Allah Ta’ala seakan-akan melihat-Nya maka Allah Ta’ala akan membalas mereka terhadap amalan itu dengan memandang wajah Allah Ta’ala di akhirat. Dan sebaliknya, orang-orang kafir yang telah tertutup hati mereka, maka tidak terdapat dalam hati mereka tempat untuk merasa takut kepada Allah Ta’ala dan merasa diawasi di dunia ini, maka Allah Ta’ala akan mengazab mereka atas perbuatan itu dengan menghijabi mereka dari melihat-Nya di akhirat kelak.

Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman:

كلا إنهم عن ربهم يومئذ لمحجوبون

“Sekali-kali tidak. Sesungguhnya mereka pada hari itu benar-benar terhalang dari (melihat) tuhannya” (QS. Al-Muthoffifiin:15)

Dan sebagaimana balasan orang-orang yang berbuat baik adalah kebaikan maka sesungguhnya kesudahan orang-orang yang berbuat buruk adalah keburukan, sebagaimana Allah Ta’ala berfirman

ثم كان عاقبة الذين أساؤوا السوأى أن كذبوا بآيات الله وكانوا بها يستهزؤون

“Kemudian adzab yang lebih buruk adalah kesudahan bagi orang-orang yang mengajarkan kejahatan. Karena mereka mendustakan ayat-ayat Allah dan mereka selalu memperolok-oloknya“ (QS. Ar-Ruum : 10)

Dan firman-Nya :

بلى من أسلم وجهه لله وهو محسن فله أجره عند ربه ولا خوف عليهم ولا هم يحزنون

“Tidak! Barangsiapa yang menyerahkan diri sepenuhnya kepada Allah dan dia berbuat baik, dia mendapat pahala di sisi tuhannya dan tidak ada rasa takut kepada mereka dan mereka tidak bersedih hati. (QS. Al-Baqoroh :112)

Dan firman-Nya :

إن رحمة الله قريب من المحسنين

“Sesungguhnya rahmat Allah adalah dekat dari orang-orang yang berbuat baik“

(QS. Al-A’rof:56)

JALAN-JALAN BERBUAT IHSAN

Perbuatan ihsan dituntut pada ibadah dan muamalah, maka ibadah apa pun yang Allah Ta’ala memfardukannya atas seorang hamba maka sesungguhnya wajib baginya agar mengerjakannya dan menyesuaikannya dengan syariat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sebagaimana seseorang menyukai agar orang lain memperlakukan dirinya dengan perlakuan yang baik maka sungguh wajib baginya agar berbuat baik kepada orang lain dengan memperlakukannya semisal dengan apa-apa yang ia suka agar dia diperlakukan seperti itu.

Dan yang demikian itu adalah dengan menempuh jalan-jalan yang kami akan memperlihatkan sebagiannya secara rinkas.

Berbuat Ihsan Dengan Manfaat/Guna Badan

Yang demikian itu dengan mengurbankan pengorbanan apa saja yang ia sanggupi berupa kekuatan badan dalam menghasilkan kebaikan mencegah kerusakan,maka hendaknya ia mencegah orang-orang yang dzolim dari kezolimannya dan menyingkir gangguan dari jalan sebagai contoh, dan inilah jalan yang Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam memaksudkannya pada sabdanya di dalam hadits:

كل سلامى من الناس عليه صدقة كل يوم تطلع فيه الشمس يعدل بين الاثنين صدقة ويعين الرجل على دابته فيحمل عليها أو يرفع عليها متاعه صدقة والكلمة الطيبة صدقة وكل خطوة يخطوها إلى الصلاة صدقة ويميط الأذى عن الطريق صدقة )

“Setiap persendian dari manusia itu ada sedekahnya disetiap hari yang matahari terbit padanya. Mendamaikan diantara dua orang adalah sedekah, dan menolong seseorang pada (urusan) kendaraannya lalu kamu naikkan dia di atas kendaraannya atau kamu naikkan perbekalannya di atas kendaraannya itu adalah sedekah, dan kalimat yang baik adalah sedekah, dan setiap langkah yang kamu jalni menuju (tempat) sholat adalah sedekah, dan menyingkirkan gangguan dari jalan adalah sedekah”. (Muttafaqun ‘alaihi)

Berbuat Ihsan Dengan Harta

Dan orang yang telah melapangkan rizki dan mendatangkan kepadanya harta. Maka, wajib baginya bersyukur kepada Allah Ta’ala dari nikmat tersebut dengan membelanjakannya pada jalan-jalan yang Allah Ta’ala syari’atkan, seperti memunuhi kebutuhan,dan menolong orang yang di timpa bencana, membebaskan tawanan, menjamu tamu, memberi makan orang yang lapar , sebagaimana perwujudan bagi firman Allah Ta’ala :

وأحسن كما أحسن الله إليك

” Dan berbuat baiklah sebagaimana Allah berbuat baik kepadamu”

(QS. Al-Qoshosh : 77)

Berbuat Ihsan Dengan Kedudukan

Ketika seorang muslim tidak dapat memenuhi kebutuhan saudaranya dengan harta dan secara langsung memberikan manfaat kepadanya maka hendaknya ia menjadi penolong bagi saudaranyadi dalam jalan memperoleh manfaat tersebut.

Yang demikan itu adalah meneladani Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan mengikuti perintahnya.

Dan sungguh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah membantu memberi syafaat Mughis di hadapan istrinya, yakni Bariiroh radhiyallahu ‘anhu dan juga memerintahkan sahabat-sahabatnya untuk memberi pertolongan (syafaat) dengan sabdanya :

اشفعوا تؤجروا

“Berikanlah (syafaat), niscaya kalian mendapat pahala” (Muttaffaqun alaih)

Berbuat Ihsan Dengan Ilmu

Ini adalah jalan yang paling agung dan paling sempurna manfaatnya, karena perbuatan ihsan (jenis) ini menyampaikan kepada kebahagiaan dunia dan akhirat dan dengannya seorang hamba beribadah kepada Allah Ta’ala di atas bashiroh, maka barang siapa yang Allah Ta’ala mudahkan baginya sebab-sebab memperoleh ilmu maka tanggungjawabnya itu adalah besar, berupa pengajaran bagi orang-orang jahil dan membimbing orang-orang yang kebingungan, memberi fatwa dari orang-orang yang bertanya, dan selain itu dari (sesuatu) yang bermanfaat yang bisa membantu orang lain.

Berbuat Ihsan Dengan Amar Ma’ruf Dan Nahi Mungkar

Dan tidaklah keadaan umat Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam sebaik-baik ummat yang dikeluarkan pada manusia kecuali dengan menempuh jalan amar ma’ruf dan nahi mungkar itu.

Allah Ta’ala berfirman dala menetapkan ummat ini :

كنتم خير أمة أخرجت للناس تأمرون بالمعروف وتنهون عن المنكر وتؤمنون بالله

“Kalian adalah sebaik-baik ummat yang dikeluarkan kepada manusia, kalian memerintahkan kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang mungkar , dan beriman kepada Allah“. (QS.Ali-Imran :110)

Allah Ta’ala telah melaknat orang kafir dari bani Israil disebabkan karena mereka tidak mencegah kaumnya dari perbuatan mungkar. Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman :

لعن الذين كفروا من بني إسرائيل على لسان داود وعيسى ابن مريم

ذلك بما عصوا وكانوا يعتدون كانوا لا يتناهون عن منكر فعلوه لبئس ما كانوا يفعلون

“Telah dilaknat orang-orang kafir dan Bani Isra’il melalui lisan Dawud dan Isa bin maryam yang demikian itu karena mereka durhaka dan selalu melampaui batas. mereka tidak saling mencegah dari perbuatan mungkar yang selalu mereka kerjakan” (QS Al-Maidah : 78-79)

Manfaat dari amar ma’ruf nahi mungkar tidak akan tercapai dan sempurna kecuali orang-orang yang beramar ma’ruf dan nahi mungkar tidak melakukan apa yang diperintahkan dan menjauhi apa yang dilarang-Nya. Jika tidak, maka akan berbahaya baginya, sebagaimana firman Allah Ta’ala :

كبر مقتا عند الله أن تقولوا ما لا تفعلون

“Sangatlah dibenci di sisi Allah jika kamu mengatakan sesuatu yang kamu tidak kerjakan” (QS. As-Shof : 3)

Dan berbuat ihsan kepada manusia dengan amar ma’ruf nahi mungkar tentu saja harus berasal dari ilmu, karena sesungguhnya orang jahil terkadang memerintahkan kepada sesuatu yang mungkar dan terkadang melarang terhadap sesuatu yang baik, dan hendaknya ia menggabungkan pada ilmu itu hikmah dan bersabar terhadap sesuatu yang menimpanya.

firman Allah Ta’ala :

وأمر بالمعروف وانه عن المنكر واصبر على ما أصابك

“Perintahkanlah kepada yang ma’ruf dan cegahlah dari yang mungkar dan bersabarlah terhadap sesuatu yang menimpamu.” (QS. Luqman: 17)

Wallahu a’lam

Diterjemahkan secara ringkas dari kitab Tsalatsu kalimaati fil ikhlasi wal Ihsan karya: Syaikh Abdul Muhsin Al-Abbad hafidhahullah. oleh: Al Akh Mujahid Abduh Al-Fana (Alumni Madrasah Ibnu Abbas As-Salafy Kendari)

http://ibnuabbaskendari.wordpress.com/2011/05/27/ihsan/

Komentar ditutup.