Waspadai Aksi “Cuci Otak” Gerakan NII

Posted: 04/20/2011 in Hati

Sebanyak sembilan mahasiswa yang masih aktif kuliah di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) diduga menjadi korban pencucianotak. Dua dari sembilan korban tersebut hingga saat ini masih belum diketahui keberadaannya.

Lima di antara sembilan mahasiswa UMM itu sudah pernah dibawa ke Jakarta untuk mengikuti prosesi pembaiatan dan disumpah. Mereka adalah Maya Mazesta, Agung Arief Perdana Putra, Mahatir Rizki, Fitri Zakiyah, dan Recki Davinci. Sementara sisanya tidak mau ikut ke Jakarta untuk dibaiat dan disumpah. Mereka adalah M Hanif, Wahyu Darmawan, Reza Yuniansyah, dan M Recky Kurniawan.
Kini sebagian besar dari sembilan mahasiswa itu sudah berada di Malang dan kembali kuliah di UMM. Sementara itu, yang hingga kini masih hilang adalah Agung Arief Perdana Putra dan Mahatir Rizki. Kedua mahasiswa itu hilang dari Malang sejak 25 Maret 2011, terakhir berada di tempat kosnya pada 24 Maret 2011.
Kasus ini terungkap setelah pihak keluarga Mahatir Rizki mencarinya ke kampus UMM dan ke kamar kosnya di Jalan Tlogomas, Gang III, di rumah dr Irma, Kota Malang. Keluarga Mahatir yang kini mencari keberadaan Mahatir Rizki ke Kota Malang adalah Ismed Jayadi (35) dan Yudi Ardiyansyah (35). Keduanya adalah paman dari Mahatir Rizki. Setelah berhari-hari mencari keberadaan Mahatir di Malang, keduanya meminta tolong kepada Pengurus Majelis Pembina Cabang (Mabincab) Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Kota Malang.
“Melihat kondisi demikian, saya selaku Ketua Mabincam PMII Kota Malang siap membantu keluarga Mahatir Rizki itu. Namun, hingga kini masih belum ditemukan,” kata Ketua Mabincab PMII Kota Malang Bagyo Prasasti, Senin (18/4/2011) malam.
Menurut Bagyo, cara memengaruhi para korban adalah dengan modus penipuan berkedok perjuangan agama. “Para korban diajak berdiskusi lalu didoktrin bahwa semua amal ibadahnya tak bisa diterima kalau tak melakukan hijrah (berpindah). Hijrahnya adalah dari warga NKRI hijrah ke Negara Islam,” katanya.
Menurut Bagyo, jika tidak hijrah, tak akan pernah datang yang namanya kebangkitan Islam. “Kalau sudah hijrah akan mendapatkan surga 100 persen di akhirat nanti. Dosa-dosanya akan bersih seperti bayi yang baru lahir,” ujarnya.
Apa yang dikatakan Bagyo tersebut adalah pengakuan dari korban yang pernah diajak diskusi dan sudah pernah dibaiat dan disumpah ke Jakarta. “Selain itu, juga pengakuan dari para korban yang tidak mau diajak ke Jakarta untuk dibaiat,” katanya.
Salah satu korban yang tidak mau diajak ke Jakarta itu adalah M Hanif. “Saya tidak mau disuruh hijrah ke Jakatra karena semua korban itu dimintai uang minimal Rp 2,5 juta. Saya tidak mau,” ujar Hanif, yang juga ikut mendampingi Bagyo dan keluarga Mahatir Rizki itu.
Hanif mengaku, sebanyak sembilan korban, termasuk dirinya itu, pertama kali yang mengajaknya adalah Maya Mazesta. Maya diajak oleh Fikri alias Feri alias Dani dan Adam alias Muhayyin. Fikri mengaku berasal dari Cilacap, sedangkan Adam mengaku dari Lampung. Dari dua orang tersebut hingga menyebar ke banyak mahasiswa di UMM dan juga di Universitas Brawijaya. “Di Brawijaya diduga yang ikut bernama Desy, mahasiswi Kedokteran Jurusan Farmasi,” kata Hanif. Semua korban sudah pernah diminta uang oleh Fikri dan Adam. “Kalau beralasan tidak punya uang, suruh minta ke orangtuanya dan benda berharga yang dimilikinya suruh dijual untuk biaya baiat dan sumpah itu,” ujar Hanif.
Modus demikian juga dialami semua korban. Uang tersebut digunakan untuk biaya baiat dan sumpah ke Jakarta. “Katanya kalau mau ikut anggota Negara Islam itu harus siap mengorbankan semua harta bendanya,” ujarnya. Sementara itu, Ismed dan Yudi, paman dari Mahatir, mengaku, Mahatir sudah meminta uang kepada kedua orangtuanya senilai Rp 20 juta. “Kalau minta uang kepada orangtuanya, mengakunya karena kehilangan laptop,” katanya.
Kembali menurut Bagyo, dari seluruh korban itu, enggan untuk ditemui dan kini nomor ponselnya sudah tidak bisa dihubungi. “Hanya M Hanif ini yang bersedia membongkar kasus ini, dan paman dari Mahatir ini sudah melaporkan kasus tersebut ke Mapolresta Malang pada 12 April 2011,” katanya.
Harapan keluarga Mahatir dan Agung (mahasiswa kelahiran Madura yang tinggal di Gresik bersama keluarganya) itu, keduanya bisa kembali kepada keluarga.
Korban “Cuci Otak” Jadi 15 Orang
Daftar korban dalam kasus dugaan “cuci otak” terhadap mahasiswa di Malang bertambah menjadi 15 orang, yaitu mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Jawa Timur, sebanyak 13 orang, dan mahasiswa Universitas Brawijaya (Unibraw) dua orang.
Hal itu diungkapkan Kepala Hubungan Masyarakat (Kahumas) UMM Nasrullah saat menggelar jumpa pers di Gedung Rektorat UMM, Selasa (19/4/2011). “Sembilan mahasiswa itu yang sudah direkrut dan dicuci otaknya. Namun, ada yang sudah hijrah ke Jakarta untuk dibaiat dan disumpah, ada yang juga belum,” ungkapnya.
Menurut Nasrullah, mereka yang sudah mengaku dicuci otaknya pada tahun 2011  adalah Maya Mazesta, Agung Arief Perdana Putra, Mahathir Rizki (yang masih hilang), Fitri Zakiyah, M Hanif Ramdhani, Wahyu Darmawan, Reviana Efendi, Reza Yuniansyah Nur Ilmi, dan M Recky Kurniawan.
Sebenarnya kasus ini sudah berlangsung sejak 2008 lalu. Ada empat korban pada tahun 2008, yang tiga di antaranya sudah bisa diatasi. “Artinya, sudah dilakukan rehabilitasi, satu orang lagi tidak mau mengaku. Akhirnya dikeluarkan dari UMM. Jadi, total korban dari UMM ada 13 orang,” katanya, tanpa mau mengungkap identitas para korban.
Adapun dua korban lain dari Universitas Brawijaya adalah Desy, mahasiswa angkatan 2010 Jurusan Psikologi, dan Ezra, mahasiswa angkatan 2010. Ketika hendak dikonfirmasi mengenai kasus yang menimpa dua mahasiswanya itu, Rektor Universitas Brawijaya Prof Yogi Sugito tak bisa dihubungi. Masih menurut Nasrullah, saat ini tujuh korban sudah dikarantina untuk melakukan proses rehabilitasi agar pikirannya kembali normal. “Karena selama direkrut itu, sembilan mahasiswa itu didoktrin tentang pemahaman yang menurut saya sangat sesat. Misalnya, dalam diskusi itu pembahas bahwa warga NKRI itu kafir. Kalau mau Islam, harus ikut Negara Islam, bukan NKRI,” katanya.
Adapun pelaku aksi pencucian otak itu diduga adalah Veriansyah alias Dhani alias Fery alias Dadi, yang mengaku mahasiswa Stikom Yogyakarta; M Muhayyin dari Lampung; dan Najib, yang mengaku mahasiswa dari Bandung.
Kasus ini terbongkar pada Maret 2011 lalu, setelah pihak keluarga Mahatir Rizky mencari Mahatir karena lama tak ada kabar dan tak kuliah. “Sejak itu, UMM mulai mengusut kasus itu, dan akhirnya terbongkar. Pada saat itu juga kami berkoordinasi dengan pihak kepolisian dan juga intelijen,” katanya.
UMM kini sudah membentuk tim untuk mencari pelakunya. “Namun, hingga kini belum terbongkar. Yang kasus ini bukan hanya menimpa UMM, tapi di berbagai universitas di Jawa Timur bahwa di seluruh Indonesia juga ada kasus serupa,” katanya.

Waspada, “Cuci Otak” Berujung Pemerasan

Perekrutan aktivis Negara Islam Indonesia dengan cara “cuci otak” terhadap para mahasiswa pada akhirnya disertai pemerasan terhadap orangtua korban.

Polisi dan Majelis Ulama Indonesia (MUI) serta para rektor di Malang hendaknya bergerak dan waspada,” kata Ketua Majelis Pembina Cabang Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (Ketua Majelis Pembina Cabang PMII) Bagyo Prasasti Prasetyo di Malang, Selasa (19/4/2011).
Bagyo mendapat informasi itu dari keluarga dua mahasiswa perguruan tinggi di Malang yang hilang kontak sejak sebulan terakhir dengan dugaan mengalami pembaiatan, atau sejenis pengesahan, untuk jadi anggota NII. Apakah benar seserius itu atau hanya aksi penipuan pidana belaka, hal tersebut belum dapat dipastikan.
Bagyo pun sekadar menerima keluhan para orangtua dan keluarga mahasiswa yang hilang kontak dan sudah melapor ke polisi itu. “Para mahasiswa ini disebutkan mengalami proses radikalisasi oleh teman mentor saat penerimaan mahasiswa baru di awal perkuliahan,” kisah Bagyo.
Melalui obrolan di tempat-tempat gaul, mereka diajak masuk NII dan menjadi Islam kaffah, atau Islam yang total, dan dijanjikan 100 persen menuju surga. Untuk itu, mereka harus mengikuti pembaiatan di Jakarta. “Ujung-ujungnya, acara baiat itu perlu memberi uang. Besarnya untuk baiat saja Rp 2,5 juta,” ungkap Bagyo.
Namun itu baru awal. Operasi berikutnya dilakukan setelah baiat. Para mahasiswa akan dipaksa menipu orangtuanya agar memberi uang Rp 12 juta-Rp 30 juta untuk menyumbang ke NII.
“Pada saat inilah muncul Desi, yang akan berpura-pura sebagai mahasiswa teman yang laptopnya telah dihilangkan oleh korban. Desi akan menelepon orangtua, dengan akting menangis, dan minta laptop diganti dengan uang Rp 20 juta-Rp 25 juta, tergantung hasil negosiasi,” katanya. Perempuan yang mengaku bernama Desi itu mengaku pula sebagai mahasiswi Universitas Brawijaya, Malang.

Wajah Pelaku “Cuci Otak” di Malang

Jumlah mahasiswa di Malang, Jawa Timur, yang didoktrin untuk tidak percaya kepada Negara Kesatuan Republik Indonesia mencapai 15 orang. Para korban wajib percaya pada Negara Islam.

“Dari hasil pengakuan para korban, baik korban yang tahun 2008 lalu dan korban yang direkrut pada 2011 ini, otaknya sudah didoktrin untuk tidak percaya pada Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), tetapi harus percaya pada Negara Islam,” kata Nasrullah kepala humas Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) di Jawa Timur, Selasa (19/4/2011).

Istilah yang mereka pakai bukan hanya Negara Islam, melainkan juga sering disebut “Negara Karunia”. “Kalau menjadi warga NKRI itu katanya kafir. Bisa Islam dan langsung masuk surga kalau jadi warga Negara Islam,” ujarnya.

Yang aneh menurut Nasrulah, diskusi dilakukan di mal, seperti di Malang Olympic Garden (MOG) dan MATOS. Penampilan para pelaku “cuci otak” itu pun tak seperti aktivis gerakan Islam radikal pada umumnya.

“Penampilan para pengajaknya tidak seperti wajah-wajah beraliran keras. Inilah yang hingga kini masih menjadi tanda tanya, apakah hanya penipuan dengan modus agama atau memang mengajak untuk anti-NKRI,” katanya.

Menurut Nasrullah, dua versi itu masih terus dikaji oleh pihak UMM. “Tetapi yang santer dari pengakuan korban bukan hanya murni penipuan bermodus agama. Otak korban itu sudah dipengaruhi radikalisasi Islam,” katanya.

Sementara itu, menurut pengakuan M Hanif, salah satu korban yang tidak sampai dibaiat di Jakarta, yang menjadi bahasan dalam setiap diskusi yang sudah belangsung selama berkali-kali tersebut memang Negara Islam.

“Kami dibuat tidak percaya kepada NKRI. Adam dan Fikri itu selalu menyampaikan karut-marutnya bangsa Indonesia. Agar keluar dari permasalahan karut marutnya bangsa ini, harus hijrah keluar dari NKRI dan pindah menjadi warga Negara Islam atau Negara Karunia,” ceritanya, Selasa.

Hanif mengaku, kebanyakan dari mereka adalah mahasiswa baru yang belum banyak tahu soal keagamaan. Kebanyakan korban merupakan mahasiswa baru dari Jurusan Teknik.

“Awalnya saya sudah yakin terhadap Negara Islam itu karena ke depan ini akan datang pembaharu Islam yang akan mengubah NKRI menjadi Negara Islam,” urai mahasiswa yang masih berumur 19 tahun ini.

Hanif juga mengatakan bahwa yang membuat dia tertarik mengikuti diskusi adalah pembeberan mengenai masalah bangsa yang sampai saat ini dinilai gagal. “Solusinya adalah Negara Islam, yang bisa mendamaikan negara,” katanya.

Kapolresta Malang AKBP Agus Salim saat dihubungi mengatakan bahwa pihaknya terus melakukan koordinasi dan penyelidikan terkait kasus pencucian otak kepada mahasiswa UMM dan Universitas Brawijaya Malang itu.

“Saat ini kami sudah menurunkan tim khusus untuk menyelidiki kasus tersebut karena sudah meresahkan banyak orang dan para korban ditipu puluhan juta dengan alasan digunakan biaya baiat ke Jakarta,” ungkapnya.

sumber : kompas
Komentar
  1. tukangecuprus mengatakan:

    Memang makin parah ini NII, jarang terekspos media juga sih ya.