Mencari Kasih Sayang Seorang Suami (1)

Posted: 02/14/2011 in Hati

Oleh: Asy Syaikh Salim Al ‘Ajmy hafizhahullah

Sesungguhnya segala puji itu hanya bagi Allah. Kita memuji-Nya. Kita meminta pertolongan dan memohon ampunan kepada-Nya. Dan kita berlindung kepada-Nya dari keburukan diri dan kejelekan perbuatan kita. Siapa yang Allah beri hidayah, tidak ada yang dapat menyesatkannya. Dan siapa yang Allah sesatkan, tidak ada yang dapat memberinya hidayah. Dan aku bersaksi bahwa tiada sembahan yang haq selain Allah semata. Tiada sekutu bagi-Nya. Dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya. Amma ba’du.

Sesungguhnya sebenar-benar perkataan itu adalah kitab Allah. Dan sebaik-baik petunjuk itu adalah petunjuk Muhammad shollallaahu’alayhiwasallam. Dan seburuk-buruk perkara itu adalah yang diada-adakan. Dan setiap perkara yang diada-adakan adalah bid’ah. Dan setiap bid’ah adalah kesesatan. Wa ba’du.

Sungguh, ketika sebuah rumah terisi dan dipenuhi dengan kebahagiaan, ia laksana sebuah tanah lapang yang dihiasi oleh musim semi sehingga bermunculanlah tetumbuhan yang indah rupanya, dan terpancarlah darinya keelokan.

Sebagaimana keelokan tanah lapang adalah ketika diselimuti warna hijau yang matang kemerah-merahan, dan darinya terpancar mata-mata air yang mengucur deras, demikian pulalah keadaan suatu rumah yang dihuni oleh seorang wanita yang senantiasa menjalankan kewajibannya dan menetapi rumahnya, juga oleh seorang pria yang mengerti tanggungjawabnya dan memenuhi hak istri, anak-anak, dan anggota rumahnya.

Namun kalau engkau melihat ada ketidakberesan dalam menjalankan kewajiban dan masing-masing anggota keluarga lari dari tanggungjawabnya, rumah tersebut niscaya akan kembali seperti hamparan padang pasir tandus dan gersang, yang tidak ada cara untuk hidup di sana kecuali dengan sekian banyak marabahaya dan sedemikian sulitnya orang untuk bernafas.

Dan salah satu penderitaan yang dialami sekian banyak keluarga di zaman ini adalah berlepas dirinya para lelaki dari tanggungjawab mereka dan kurang perhatiannya mereka terhadap hak-hak anggota keluarga mereka. Mereka kikir dan enggan untuk mencurahkan waktu demi melayani keluarga dan untuk menunaikan amanah, sesuai dengan cara yang membuat Allah ridho kepada mereka, keluarganya akan berterimakasih kepadanya, dan dipuji oleh setiap orang yang berakal sehat.

Sungguh merupakan hal yang menyedihkan sekaligus menyesakkan dada, ketika engkau melihat keluarga-keluarga yang tidak ada pria di dalamnya. Angin duka menghamburkannya, dan badai kepedihan menggoncangnya, karena kehilangan para pria yang memiliki komitmen terhadap istri dan anak-anaknya.

Andai saja pria yang tak punya perhatian itu telah menghabiskan waktunya demi kebutuhan-kebutuhan mendesak berkaitan dengan masalah penghidupannya tentu itu masih dapat ditolerir. Akan tetapi ini melarikan diri mencari kesenangan pribadi dengan menelantarkan keluarganya.

Berapa banyak teriakan menggema dan rintihan lelah yang diperdengarkan para wanita yang memikul seluruh tanggung jawab gara-gara suami yang enak-enak dengan kesenangannya sendiri, dan tidak mau tahu keadaan keluarganya.

Pernah ada sekian banyak wanita yang mengunjungi keluarga Rasulullah shollallahu’alayhiwasallam mengadukan perihal suami-suami mereka. Maka Rasulullah shollallahu’alayhiwasallam bersabda: “Sungguh telah berkunjung sekian banyak wanita ke keluarga Muhammad, mengadukan perihal suami-suami mereka. Mereka (para suami yang diadukan -pent) itu bukanlah orang-orang yang baik di antara kalian”.

Orang yang memperhatikan keadaan masyarakat yang memprihatinkan ini akan melihat berbagai macam keanehan. Berbagai macam keanehan itu diungkapkan dalam perkataan seorang wanita yang ditanya tentang inti problem dalam rumah tangga, kemudian ia menjawab: para pria sudah pergi entah kemana.

Perhatikanlah, semoga Allah merahmati kalian. Seorang laki-laki keluar dari rumahnya ke tempat kerja. Dari pagi sampai siang. Kemudian ia kembali untuk tidur. Pada saat terbenam matahari, ia keluar ke tempat-tempat hiburan atau lokasi-lokasi bersantai, atau tempat-tempat nongkrong untuk menghabiskan waktu. Dan ia tidak pulang ke rumahnya kecuali ketika orang sudah pada tidur atau bahkan pada waktu pagi. Keadaan ini berulang setiap hari. Maka kapan orang itu akan memenuhi kewajibannya?!

Oleh karena itu engkau masih bisa melihat sekian lelaki yang membebankan tugas kepada istri-istri mereka. Mereka memaksa para wanita itu mengemudi mobil untuk menggantikan mereka mengerjakan segala sesuatunya.

Maka wanita itulah yang membiayai diri dan anak-anaknya. Dia pula yang belanja keperluan-keperluan mereka. Dia juga yang membawakan barang-barang rumah. Sampai berbagai makanan. Bahkan dia juga yang mengantar anak-anaknya ke rumah sakit sekalipun sudah larut malam.

Maka manakah peran seorang ayah?

Dan di manakah ia pada saat itu?

Sungguh dia sedang di tempat hura-hura dengan teman-teman yang tidak sedang melakukan kebaikan!

Dan lihatlah keputusasaan yang menyelinap masuk dalam diri sang anak yang ketika ia berbicara kepada ayahnya meminta sesuatu, sang ayah menjawab: bilang ke ibumu nanti ibu yang belikan. Atau: bilang ke supir saja, ayah sibuk!!

Sibuk dengan apa?!

Sungguh sikap tidak mau tahu ini telah menggiring banyak istri membuat-buat permasalahan. Karena dengan jelas ia merasa atau yakin bahwa dirinya sama sekali tidak hidup bersama seorang pria.

Dan memikul sedemikian banyak tanggungjawab menjadikan wanita merasa telah keluar dari fitrahnya. Sehingga mulailah ia berlaku seperti laki-laki. Dan semakin banyaklah permasalahan dan percekcokan.

Sungguh sikap tidak mau tahu seorang suami dengan kewajibannya terhadap anggota keluarganya merupakan suatu dosa besar. Rasulullah shollallahu’alayhiwasallam bersabda: “Cukuplah menjadi dosa bagi seseorang, dengan menelantarkan orang-orang yang menjadi tanggungannya”.

Sebagaimana ia harus bertanggung jawab karena telah membuat keluarganya tidak merasakan keamanan. Karena seorang istri membutuhkan sandaran kuat untuk berlindung. Dan anak-anak membutuhkan sosok yang dapat mengokohkan kelemahan mereka. Dan itu tidak dapat dilakukan kecuali oleh seorang pria.

Sebagaimana juga mereka akan kehilangan kestabilan emosi dan ketenangan jiwa karena ditinggal lama oleh sang ayah. Mereka pun tumbuh besar dengan keadaan seperti ini, dan terus berkembang sampai mereka menjadi anak-anak muda dan mewarisi sikap acuh-tak-acuh akibat apa yang ditanamkan oleh sang ayah yang lalai tersebut.

Aku tanyakan pada kalian: apa peran seorang suami kalau sang istri mengerjakan segala sesuatunya?

Dan sikap tidak mau tahu seperti ini, begitu juga pekerjaan-pekerjaan tak patut yang dilakukan oleh para wanita bersama para pria, dan keluarnya para wanita itu dengan terpaksa dari rumah mereka. Semua ini bisa terjadi tidak lain kecuali karena para lelaki yang lalai menjalankan tanggung jawab mereka.

Lihatlah apa yang dulu senantiasa dilakukan oleh sebaik-baik manusia, Rasulullah shollallaahu’alayhiwasallam..

Aisyah rodhiyallaahu’anha ditanya: apa yang senantiasa dilakukan oleh Rasulullah shollallaahu’alayhiwasallam di rumah istri beliau? Aisyah berkata: “Beliau senantiasa bekerja untuk keluarganya. Maka kalau sudah datang waktu sholat, beliaupun bangkit untuk sholat”.

Dan dalam suatu lafazh, Aisyah berkata: “Beliau selalu bekerja untuk keluarganya, menjahit pakaiannya, menambal sandalnya dan mengerjakan apa yang dikerjakan oleh para lelaki di rumah mereka”.

Dalam keterangan di atas terdapat dalil bahwa seorang laki-laki mengerjakan hal-hal yang dikerjakan oleh orang pada umumnya di rumah. Dan ini tidak lain adalah sebuah isyarat bahwa bekerjanya seorang pria untuk melayani keluarganya termasuk hal yang meninggikan kedudukannya dan sama sekali tidak menjatuhkan martabatnya.

Ini adalah sesuatu yang wajar dan sudah seharusnya. Bahkan sampai para ayah pun menyayangi dan lebih menyukai di antara putra-putra mereka yang senantiasa melayani mereka. Dan demi menjaga perasaannya, mereka bahkan tidak melakukan sesuatu kecuali dengan pertimbangan sang anak. Berbeda halnya dengan anak yang tak punya peran dan pengaruh apa-apa dalam keluarga.

http://jihadsabili.wordpress.com/2011/01/29/mencari-kasih-sayang-seorang-suami-1-2/

Komentar ditutup.