Arsip untuk 02/14/2011

Oleh: Asy Syaikh Salim Al ‘Ajmy hafizhahullah

Sungguh berkhidmatnya seorang laki-laki kepada keluarganya, kepada istri dan anak-anaknya, dan upayanya memenuhi keperluan mereka termasuk hal yang akan menguatkan hubungannya dengan mereka. Dan akan membuatnya nampak berwibawa dan berkepribadian tangguh di mata mereka.

Hammad bin Zaid berkata: Ayyub As Sikhtiyaaniy berkata padaku: teruslah berdagang di pasar, karena sungguh seorang laki-laki itu akan senantiasa nampak terhormat di mata saudara-saudaranya selama keluarganya tidak membutuhkan orang selainnya.

Umar bin Khoththob rodhiyallaahu’anhu berkata: aku kagum dengan seorang laki-laki yang nampak seperti seorang anak kecil di antara anggota keluarganya. Namun ketika ia dibutuhkan, ia menjadi seorang laki-laki dewasa.

Sufyan berkata: aku mendengar Abu Sinan berkata: sudah seharian ini aku telah memerah domba dan mengambil satu wadah air untuk memberi minum keluarga. Dan Abu Sinan pernah berkata: sebaik-baik kalian adalah yang paling bermanfaat untuk keluarganya.

Kemudian, sesungguhnya sikap seorang laki-laki yang memenuhi tanggungjawabnya akan membuat sikap tersebut juga tertanam pada diri anak-anaknya. Ketika anak-anak melihat ayah mereka menjalankan tanggungjawabnya, maka mereka akan mewarisi sifat terpuji itu.

Betapa banyak orang yang datang mengeluhkan anak-anaknya dan sikap acuh-tak-acuh mereka terhadap dirinya serta ketidakpedulian mereka terhadap kondisi keluarga. Kalau saja lembaran-lembaran kehidupan itu dibalik ke masa lalu, niscaya engkau akan melihat orang ini telah menghabiskan tiga perempat umur hidupnya dengan melarikan diri dari rumah. Dan seperempat sisanya ia habiskan untuk tidur atau melibatkan diri dalam pertengkaran dengan istri.

Maka bagaimana dia hendak memetik buah yang manis padahal yang ia tanam adalah jenis buah yang pahit.

Sebagaimana anggur tidak akan dapat dipetik dari duri, orang-orang yang brengsek pun tidak akan menurunkan keturunan-keturunan yang sholeh.

Anak-anak haruslah merasakan keberadaan ayah. Dan ketahuilah bahwa masalah ini adalah soal hutang dan pinjaman. Maka barangsiapa yang menelantarkan, ia akan ditelantarkan. Dan barangsiapa yang tidak pernah menanamkan kewibawaan dirinya di hati orang, maka ia tidak akan pernah memiliki wibawa. Kalau saja tidak pernah ada para lelaki yang menahan diri di rumah untuk mendidik putra-putra mereka, mereka tidak akan pernah menghasilkan pria-pria yang dapat dibanggakan.

Sungguh sekian keluarga begitu gaduh dengan berbagai problema. Suara rintihan dan raungan meninggi dan hal itu tidaklah muncul kecuali dengan sebab hilangnya tanggungjawab dari para lelaki.

Bukankah suatu hal yang tercela, engkau mendapatkan seorang laki-laki yang dinikahkan dengan seorang anak perempuan yang telah dididik sedemikian rupa agar ia terhindar dari tempat-tempat mencurigakan, dan agar laki-laki ini bisa bersikap sayang kepadanya sehingga anak perempuan itu pun dapat bersandar kepada suaminya, akan tetapi kemudian laki-laki tersebut menelantarkan istrinya seperti sepotong kain usang di pojok ruangan yang tak terhiraukan.

Bukankah merupakan suatu hal yang dituntut dalam agama dan akal sehat, bahwa seharusnya laki-laki itu memperlakukan perempuan tersebut dengan cara yang sama dengan yang ia kehendaki dari seorang pria asing yang menjadi suami putrinya?

Bagaimana bisa seorang laki-laki -yang menghormati dirinya sendiri- bisa membiarkan istrinya keluar masuk seolah-olah ia adalah seorang suruhan yang bisa diperintah macam-macam, dan ia sampai mengerjakan pekerjaan-pekerjaan berat serta ikut masuk komunitas-komunitas pria, atau bahkan ia sampai membelikan pakaian dalam untuknya.

Lalu apa perannya dalam hidup ini?

Apakah ia cacat dan harus duduk di kursi roda…, lumpuh.., sakit?

Tidak.., sesungguhnya dia sedang berleha-leha dan bersenang-senang di dunia malam!

“Betapa banyak keburukan yang tak ada penghalang bagiku

Untuk melakukannya kecuali rasa malu.”

“Kalaulah seorang pemuda dikaruniai wajah yang buruk rupanya

Maka perbuatan apapun akan dikerjakan terserah dirinya.”

Dan sesungguhnya salah satu akibat ketidakpedulian ini adalah sikap sebagian orang yang membuat istri mereka terdorong melakukan kesalahan. Karena ia hidup bersama istrinya sebagai seorang teman, bukan sebagai seorang suami. Ia tidak punya peran sama sekali bahkan untuk membiayai kebutuhan rumah tangga sekalipun.

Di sini, kalau iman di hati lemah, hal itu akan menyebabkan kehancuran. Karena kalau pribadi-pribadi ini sudah sejajar, akan muncullah sikap membanding-bandingkan dan menggeliatlah fitnah. Seorang wanita cerdas berkata: tidak ada seorang wanita pun yang lalai menjaga kehormatannya, melainkan itu disebabkan oleh dosa seorang pria yang telah melalaikan kewajibannya”.

Seorang laki-laki yang tidak mau duduk bersama istrinya, tidak memberinya kasih sayang.

Seorang laki-laki yang kehadirannya tidak dirasakan oleh istrinya sebagai laki-laki yang bisa dijadikan tempat bersandar. Bahkan sang istri lebih baik dari sang suami dalam mengurus rumah tangga dan keluarga. Bukankah itu dapat menyebabkan hancurnya keluarga dan terjadinya penyimpangan, kecuali mereka yang dijaga oleh Allah?

Dan tidaklah penyimpangan yang kalian lihat kecuali disebabkan oleh seorang laki-laki yang begadang sampai pagi untuk bersenang-senang dan berhura-hura. Sedangkan anak dan istri tidak ada yang menjaga dan mengawasi. Maka terjadilah peristiwa-peristiwa mengerikan itu. Maka hendaknya setiap pria bertakwa kepada Allah jangan sampai menempatkan istri dan anggota keluarganya ke negeri kehancuran.

Klub-klub, tempat-tempat kongkow, lokasi-lokasi cuci mata, apa isinya? Tidak ada faidah yang didapat berupa kisah berharga, tidak juga majlis yang nyaman. Justru hanya membuang-buang waktu hingga sampai keesokan hari untuk disia-siakan begitu saja sebagaimana waktu hari ini dan kemarin juga disia-siakan. Bagaimana lagi kalau majelis itu isinya adalah kegembiraan atas bencana yang menimpa orang-orang muslim sendiri, atau gosip tentang aib yang sudah Allah tutup atas mereka?

Keluarga kita telah menahan diri mereka di rumah demi mendidik kita, hingga kita tumbuh dan mampu memikul tanggungjawab untuk diri sendiri dan orang-orang yang telah Allah jadikan berada di bawah tanggungan kita. Maka kalau kita menginginkan keadilan, inshof dan kenyataan yang tak terbantahkan, maka kita harus menahan diri kita di rumah untuk beberapa waktu demi melahirkan generasi yang mampu menghadapi hidup dan segala hal tak terduga yang sedemikian dahysat di dalamnya pada saat meraungi berbagai peristiwa yang menyakitkan nanti.

Ini hanya soal kebiasaan. Sebagaimana yang dikatakan:

“Kusabarkan hari demi hari hingga berlalu

Dan terus kucoba bersabar atas waktu yang terus melaju.”

“Diri itu tergantung bagaimana orang memperlakukannya

Kalau dituruti ia akan terus berkeinginan, kalau tidak maka ia kan berusaha lupa.”

http://jihadsabili.wordpress.com/2011/01/29/mencari-kasih-sayang-seorang-suami-2-2/

Iklan

Oleh: Asy Syaikh Salim Al ‘Ajmy hafizhahullah

Sesungguhnya segala puji itu hanya bagi Allah. Kita memuji-Nya. Kita meminta pertolongan dan memohon ampunan kepada-Nya. Dan kita berlindung kepada-Nya dari keburukan diri dan kejelekan perbuatan kita. Siapa yang Allah beri hidayah, tidak ada yang dapat menyesatkannya. Dan siapa yang Allah sesatkan, tidak ada yang dapat memberinya hidayah. Dan aku bersaksi bahwa tiada sembahan yang haq selain Allah semata. Tiada sekutu bagi-Nya. Dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya. Amma ba’du.

Sesungguhnya sebenar-benar perkataan itu adalah kitab Allah. Dan sebaik-baik petunjuk itu adalah petunjuk Muhammad shollallaahu’alayhiwasallam. Dan seburuk-buruk perkara itu adalah yang diada-adakan. Dan setiap perkara yang diada-adakan adalah bid’ah. Dan setiap bid’ah adalah kesesatan. Wa ba’du.

Sungguh, ketika sebuah rumah terisi dan dipenuhi dengan kebahagiaan, ia laksana sebuah tanah lapang yang dihiasi oleh musim semi sehingga bermunculanlah tetumbuhan yang indah rupanya, dan terpancarlah darinya keelokan.

Sebagaimana keelokan tanah lapang adalah ketika diselimuti warna hijau yang matang kemerah-merahan, dan darinya terpancar mata-mata air yang mengucur deras, demikian pulalah keadaan suatu rumah yang dihuni oleh seorang wanita yang senantiasa menjalankan kewajibannya dan menetapi rumahnya, juga oleh seorang pria yang mengerti tanggungjawabnya dan memenuhi hak istri, anak-anak, dan anggota rumahnya.

Namun kalau engkau melihat ada ketidakberesan dalam menjalankan kewajiban dan masing-masing anggota keluarga lari dari tanggungjawabnya, rumah tersebut niscaya akan kembali seperti hamparan padang pasir tandus dan gersang, yang tidak ada cara untuk hidup di sana kecuali dengan sekian banyak marabahaya dan sedemikian sulitnya orang untuk bernafas.

Dan salah satu penderitaan yang dialami sekian banyak keluarga di zaman ini adalah berlepas dirinya para lelaki dari tanggungjawab mereka dan kurang perhatiannya mereka terhadap hak-hak anggota keluarga mereka. Mereka kikir dan enggan untuk mencurahkan waktu demi melayani keluarga dan untuk menunaikan amanah, sesuai dengan cara yang membuat Allah ridho kepada mereka, keluarganya akan berterimakasih kepadanya, dan dipuji oleh setiap orang yang berakal sehat.

Sungguh merupakan hal yang menyedihkan sekaligus menyesakkan dada, ketika engkau melihat keluarga-keluarga yang tidak ada pria di dalamnya. Angin duka menghamburkannya, dan badai kepedihan menggoncangnya, karena kehilangan para pria yang memiliki komitmen terhadap istri dan anak-anaknya.

Andai saja pria yang tak punya perhatian itu telah menghabiskan waktunya demi kebutuhan-kebutuhan mendesak berkaitan dengan masalah penghidupannya tentu itu masih dapat ditolerir. Akan tetapi ini melarikan diri mencari kesenangan pribadi dengan menelantarkan keluarganya.

Berapa banyak teriakan menggema dan rintihan lelah yang diperdengarkan para wanita yang memikul seluruh tanggung jawab gara-gara suami yang enak-enak dengan kesenangannya sendiri, dan tidak mau tahu keadaan keluarganya.

Pernah ada sekian banyak wanita yang mengunjungi keluarga Rasulullah shollallahu’alayhiwasallam mengadukan perihal suami-suami mereka. Maka Rasulullah shollallahu’alayhiwasallam bersabda: “Sungguh telah berkunjung sekian banyak wanita ke keluarga Muhammad, mengadukan perihal suami-suami mereka. Mereka (para suami yang diadukan -pent) itu bukanlah orang-orang yang baik di antara kalian”.

Orang yang memperhatikan keadaan masyarakat yang memprihatinkan ini akan melihat berbagai macam keanehan. Berbagai macam keanehan itu diungkapkan dalam perkataan seorang wanita yang ditanya tentang inti problem dalam rumah tangga, kemudian ia menjawab: para pria sudah pergi entah kemana.

Perhatikanlah, semoga Allah merahmati kalian. Seorang laki-laki keluar dari rumahnya ke tempat kerja. Dari pagi sampai siang. Kemudian ia kembali untuk tidur. Pada saat terbenam matahari, ia keluar ke tempat-tempat hiburan atau lokasi-lokasi bersantai, atau tempat-tempat nongkrong untuk menghabiskan waktu. Dan ia tidak pulang ke rumahnya kecuali ketika orang sudah pada tidur atau bahkan pada waktu pagi. Keadaan ini berulang setiap hari. Maka kapan orang itu akan memenuhi kewajibannya?!

Oleh karena itu engkau masih bisa melihat sekian lelaki yang membebankan tugas kepada istri-istri mereka. Mereka memaksa para wanita itu mengemudi mobil untuk menggantikan mereka mengerjakan segala sesuatunya.

Maka wanita itulah yang membiayai diri dan anak-anaknya. Dia pula yang belanja keperluan-keperluan mereka. Dia juga yang membawakan barang-barang rumah. Sampai berbagai makanan. Bahkan dia juga yang mengantar anak-anaknya ke rumah sakit sekalipun sudah larut malam.

Maka manakah peran seorang ayah?

Dan di manakah ia pada saat itu?

Sungguh dia sedang di tempat hura-hura dengan teman-teman yang tidak sedang melakukan kebaikan!

Dan lihatlah keputusasaan yang menyelinap masuk dalam diri sang anak yang ketika ia berbicara kepada ayahnya meminta sesuatu, sang ayah menjawab: bilang ke ibumu nanti ibu yang belikan. Atau: bilang ke supir saja, ayah sibuk!!

Sibuk dengan apa?!

Sungguh sikap tidak mau tahu ini telah menggiring banyak istri membuat-buat permasalahan. Karena dengan jelas ia merasa atau yakin bahwa dirinya sama sekali tidak hidup bersama seorang pria.

Dan memikul sedemikian banyak tanggungjawab menjadikan wanita merasa telah keluar dari fitrahnya. Sehingga mulailah ia berlaku seperti laki-laki. Dan semakin banyaklah permasalahan dan percekcokan.

Sungguh sikap tidak mau tahu seorang suami dengan kewajibannya terhadap anggota keluarganya merupakan suatu dosa besar. Rasulullah shollallahu’alayhiwasallam bersabda: “Cukuplah menjadi dosa bagi seseorang, dengan menelantarkan orang-orang yang menjadi tanggungannya”.

Sebagaimana ia harus bertanggung jawab karena telah membuat keluarganya tidak merasakan keamanan. Karena seorang istri membutuhkan sandaran kuat untuk berlindung. Dan anak-anak membutuhkan sosok yang dapat mengokohkan kelemahan mereka. Dan itu tidak dapat dilakukan kecuali oleh seorang pria.

Sebagaimana juga mereka akan kehilangan kestabilan emosi dan ketenangan jiwa karena ditinggal lama oleh sang ayah. Mereka pun tumbuh besar dengan keadaan seperti ini, dan terus berkembang sampai mereka menjadi anak-anak muda dan mewarisi sikap acuh-tak-acuh akibat apa yang ditanamkan oleh sang ayah yang lalai tersebut.

Aku tanyakan pada kalian: apa peran seorang suami kalau sang istri mengerjakan segala sesuatunya?

Dan sikap tidak mau tahu seperti ini, begitu juga pekerjaan-pekerjaan tak patut yang dilakukan oleh para wanita bersama para pria, dan keluarnya para wanita itu dengan terpaksa dari rumah mereka. Semua ini bisa terjadi tidak lain kecuali karena para lelaki yang lalai menjalankan tanggung jawab mereka.

Lihatlah apa yang dulu senantiasa dilakukan oleh sebaik-baik manusia, Rasulullah shollallaahu’alayhiwasallam..

Aisyah rodhiyallaahu’anha ditanya: apa yang senantiasa dilakukan oleh Rasulullah shollallaahu’alayhiwasallam di rumah istri beliau? Aisyah berkata: “Beliau senantiasa bekerja untuk keluarganya. Maka kalau sudah datang waktu sholat, beliaupun bangkit untuk sholat”.

Dan dalam suatu lafazh, Aisyah berkata: “Beliau selalu bekerja untuk keluarganya, menjahit pakaiannya, menambal sandalnya dan mengerjakan apa yang dikerjakan oleh para lelaki di rumah mereka”.

Dalam keterangan di atas terdapat dalil bahwa seorang laki-laki mengerjakan hal-hal yang dikerjakan oleh orang pada umumnya di rumah. Dan ini tidak lain adalah sebuah isyarat bahwa bekerjanya seorang pria untuk melayani keluarganya termasuk hal yang meninggikan kedudukannya dan sama sekali tidak menjatuhkan martabatnya.

Ini adalah sesuatu yang wajar dan sudah seharusnya. Bahkan sampai para ayah pun menyayangi dan lebih menyukai di antara putra-putra mereka yang senantiasa melayani mereka. Dan demi menjaga perasaannya, mereka bahkan tidak melakukan sesuatu kecuali dengan pertimbangan sang anak. Berbeda halnya dengan anak yang tak punya peran dan pengaruh apa-apa dalam keluarga.

http://jihadsabili.wordpress.com/2011/01/29/mencari-kasih-sayang-seorang-suami-1-2/

Wahai kekasihku, calon suamiku… Jika kau menjadi suamiku kelak… Pimpinlah rumah tangga kita dengan sebaik-baiknya Jadikan aku teman sejatimu, tempat engkau bersandar Terbukalah padaku, kan kujaga semua rahasiamu Jika kau menjadi suamiku kelak… Jadilah engkau teladan yang baik bagi keluarga Sempatkanlah untuk menjadi imam dalam sholat Hiasilah rumah kita dengan ketakwaan kepada Allah Amalkan sunnah Rasul sekuat yang kau mampu Bimbinglah anak-anak kita menjadi pribadi Muslim yang cerdas dan berakhlak mulia

♫•*¨*•.¸¸ﷲ¸¸.•*¨*•♫♥♥♥♥♥♥♫•*¨*•.¸¸ﷲ¸¸.•*¨*•♫♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥

Jika kau menjadi suamiku kelak… Bergaullah dengan ma’ruf terhadapku Jadilah engkau suami yang penyayang dan sabar Janganlah kau bertindak aniaya terhadapku Jika aku berbuat kesalahan dan kemungkaran… Jangan kau hukum aku dengan memukul aku Tapi, ajarilah aku dengan hati dan lisanmu Ingatkanlah aku dengan cara yang ihsan Tahan amarahmu dan bersikaplah pemaaf Sayangi dan hormati orang tuaku, juga saudara-saudaraku Jika ada yang tidak kau sukai dari mereka, simpanlah rasa itu Dan tetaplah kau jaga silaturrahim dengan mereka Jangan pula kau jauhi mereka karena selamanya mereka adalah keluargaku Wahai kekasihku, calon suamiku… Jika kau menjadi suamiku kelak Jadilah engkau suami yang bertanggung jawab Berilah nafkah sesuai kemampuanmu Pasti kuterima dengan qona’ah Bersikaplah penyantun dan jangan kau kikir terhadapku Jangan pula kau tinggalkan aku dalam waktu lama Sehingga kau abaikan kebutuhanku akan kehadiranmu Jika kau menjadi suamiku kelak Bersikaplah bijaksana dalam segala hal Bermusyarahlah denganku sebelum mengambil keputusan Dengarkan pemikiranku dan jangan kau remehkan aku Tunjukkan kasih sayangmu terhadapku Jangan kau biarkan aku dalam kecemburuan dan prasangka Jagalah hatiku, lapangkanlah dadaku, dengan cintamu

♫•*¨*•.¸¸ﷲ¸¸.•*¨*•♫♥♥♥♥♥♥♫•*¨*•.¸¸ﷲ¸¸.•*¨*•♫♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥

Wahai kekasihku, calon suamiku…

Jika kau menjadi suamiku kelak

Jadikan rumah tangga kita sebagai surga dunia bagimu

Jagalah aku dan jadilah pelindung bagi anak-anak kita

Jagalah rahasia rumah tangga dimanapun kau berada

Jadikan ia baju putihmu, jagalah ia jangan sampai ternoda

♫•*¨*•.¸¸ﷲ¸¸.•*¨*•♫♥♥♥♥♥♥♫•*¨*•.¸¸ﷲ¸¸.•*¨*•♫♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥

http://tomygnt.wordpress.com/2011/02/10/wahai-kekasihku-calon-suamiku%E2%80%A6/

 

Perayaan hari Valentine termasuk salah satu hari raya bangsa Romawi paganis (penyembah berhala), di mana penyembahan berhala adalah agama mereka semenjak lebih dari 17 abad silam. Perayaan valentin tersebut merupakan ungkapan dalam agama paganis Romawi kecintaan terhadap sesembahan mereka. Perayaan Valentine’s Day memiliki akar sejarah berupa beberapa kisah yang turun-temurun pada bangsa Romawi dan kaum Nasrani pewaris mereka.

Kisah yang paling masyhur tentang asal-muasalnya adalah bahwa bangsa Romawi dahulu meyakini bahwa Romulus (pendiri kota Roma) disusui oleh seekor serigala betina, sehingga serigala itu memberinya kekuatan fisik dan kecerdasan pikiran. Bangsa Romawi memperingati peristiwa ini pada pertengahan bulan Februari setiap tahun dengan peringatan yang megah. Di antara ritualnya adalah menyembelih seekor anjing dan kambing betina, lalu dilumurkan darahnya kepada dua pemuda yang kuat fisiknya. Kemudian keduanya mencuci darah itu dengan susu. Setelah itu dimulailah pawai besar dengan kedua pemuda tadi di depan rombongan. Keduanya membawa dua potong kulit yang mereka gunakan untuk melumuri segala sesuatu yang mereka jumpai. Para wanita Romawi sengaja menghadap kepada lumuran itu dengan senang hati, karena meyakini dengan itu mereka akan dikaruniai kesuburan dan melahirkan dengan mudah.

Sejarah hari valentine I : Menurut tarikh kalender Athena kuno, periode antara pertengahan Januari dengan pertengahan Februari adalah bulan Gamelion, yang dipersembahkan kepada pernikahan suci Dewa Zeus dan Hera. Tahu gak dewa Zeus? itu bokap-nye hercules. Di Roma kuno, 15 Februari adalah hari raya Lupercalia, sebuah perayaan Lupercus, dewa kesuburan, yang dilambangkan setengah telanjang dan berpakaian kulit kambing. Sebagai ritual penyucian, para pendeta Lupercus meyembahkan korban kambing kepada dewa dan kemudian setelah minum anggur, mereka akan berlari-lari di jalanan kota Roma sambil membawa potongan kulit domba dan menyentuh siapa pun yang mereka jumpai dijalan. Sebagian ahli sejarah mengatakan ini sebagai salah satu sebab cikal bakal hari valentine.

Sejarah Valentine’s Day II : Menurut Ensiklopedi Katolik, nama Valentinus diduga bisa merujuk pada tiga martir atau santo (orang suci) yang berbeda yaitu dibawah ini: * pastur di Roma * uskup Interamna (modern Terni) * martir di provinsi Romawi Afrika. Hubungan antara ketiga martir ini dengan hari raya kasih sayang (valentine) tidak jelas. Bahkan Paus Gelasius I, pada tahun 496, menyatakan bahwa sebenarnya tidak ada yang diketahui mengenai martir-martir ini namun hari 14 Februari ditetapkan sebagai hari raya peringatan santo Valentinus. Ada yang mengatakan bahwa Paus Gelasius I sengaja menetapkan hal ini untuk mengungguli hari raya Lupercalia yang dirayakan pada tanggal 15 Februari. Sisa-sisa kerangka yang digali dari makam Santo Hyppolytus, diidentifikasikan sebagai jenazah St. Valentinus. Kemudian ditaruh dalam sebuah peti dari emas dan dikirim ke gereja Whitefriar Street Carmelite Church di Dublin, Irlandia. Jenazah ini telah diberikan kepada mereka oleh Paus Gregorius XVI pada tahun 1836. Banyak wisatawan sekarang yang berziarah ke gereja ini pada hari Valentine (14 Februari), di mana peti dari emas diarak dalam sebuah prosesi dan dibawa ke sebuah altar tinggi. Pada hari itu dilakukan sebuah misa yang khusus diadakan dan dipersembahkan kepada para muda-mudi dan mereka yang sedang menjalin hubungan cinta. Hari raya ini dihapus dari kalender gerejawi pada tahun 1969 sebagai bagian dari sebuah usaha yang lebih luas untuk menghapus santo-santo yang asal-muasalnya tidak jelas, meragukan dan hanya berbasis pada legenda saja. Namun pesta ini masih dirayakan pada paroki-paroki tertentu.

Sejarah hari valentine III : Catatan pertama dihubungkannya hari raya Santo Valentinus dengan cinta romantis adalah pada abad ke-14 di Inggris dan Perancis, di mana dipercayai bahwa 14 Februari adalah hari ketika burung mencari pasangan untuk kawin. Kepercayaan ini ditulis pada karya sastrawan Inggris Pertengahan bernama Geoffrey Chaucer. Ia menulis di cerita Parlement of Foules (Percakapan Burung-Burung) bahwa: For this was sent on Seynt Valentyne’s day (Bahwa inilah dikirim pada hari Santo Valentinus) Whan every foul cometh ther to choose his mate (Saat semua burung datang ke sana untuk memilih pasangannya) Pada jaman itu bagi para pencinta sudah lazim untuk bertukaran catatan padahari valentine dan memanggil pasangan Valentine mereka. Sebuah kartu Valentine yang berasal dari abad ke-14 konon merupakan bagian dari koleksi naskah British Library di London. Kemungkinan besar banyak legenda-legenda mengenai santo Valentinus diciptakan pada jaman ini. Beberapa di antaranya bercerita bahwa: * Sore hari sebelum santo Valentinus akan mati sebagai martir (mati syahid), ia telah menulis sebuah pernyataan cinta kecil yang diberikannya kepada sipir penjaranya yang tertulis “Dari Valentinusmu”. * Ketika serdadu Romawi dilarang menikah oleh Kaisar Claudius II, santo Valentinus secara rahasia membantu menikahkan mereka diam-diam. Pada kebanyakan versi legenda-legenda ini, 14 Februari dihubungkan dengan keguguran sebagai martir.

Sejarah Valentines Day IV : Kisah St. Valentine Valentine adalah seorang pendeta yang hidup di Roma pada abad ke-III. Ia hidup di kerajaan yang saat itu dipimpin oleh Kaisar Claudius yang terkenal kejam. Ia sangat membenci kaisar tersebut. Claudius berambisi memiliki pasukan militer yang besar, ia ingin semua pria di kerajaannya bergabung di dalamya. Namun sayangnya keinginan ini tidak didukung. Para pria enggan terlibat dalam peperangan. Karena mereka tak ingin meninggalkan keluarga dan kekasih hatinya. Hal ini membuat Claudius marah, dia segera memerintahkan pejabatnya untuk melakukan sebuah ide gila. Claudius berfikir bahwa jika pria tidak menikah, mereka akan senang hati bergabung dengan militer. Lalu Claudius melarang adanya pernikahan. Pasangan muda saat itu menganggap keputusan ini sangat tidak masuk akal. Karenanya St. Valentine menolak untuk melaksanakannya. St. Valentine tetap melaksanakan tugasnya sebagai pendeta, yaitu menikahkan para pasangan yang tengah jatuh cinta meskipun secara rahasia. Aksi ini akhirnya diketahui oleh kaisar yang segera memberinya peringatan, namun ia tidak menggubris dan tetap memberkati pernikahan dalam sebuah kapel kecil yang hanya diterangi cahaya lilin. Sampai pada suatu malam, ia tertangkap basah memberkati salah satu pasangan. Pasangan tersebut berhasil melarikan diri, namun malang St. Valentine tertangkap. Ia dijebloskan ke dalam penjara dan divonis hukuman mati dengan dipenggal kepalanya. Bukannya dihina oleh orang-orang, St. Valentine malah dikunjungi banyak orang yang mendukung aksinya itu. Mereka melemparkan bunga dan pesan berisi dukungan di jendela penjara dimana dia ditahan. Salah satu dari orang-orang yang percaya pada cinta kasih itu adalah putri penjaga penjara sendiri. Sang ayah mengijinkan putrinya untuk mengunjungi St. Valentine. Tak jarang mereka berbicara lama sekali. Gadis itu menumbuhkan kembali semangat sang pendeta. Ia setuju bahwa St. Valentine telah melakukan hal yang benar alias benul eh betul. Pada hari saat ia dipenggal alias dipancung kepalanya, yakni tanggal 14 Februari gak tahu tahun berapa, St. Valentine menyempatkan diri menuliskan sebuah pesan untuk gadis putri sipir penjara tadi, ia menuliskan Dengan Cinta dari Valentinemu. Pesan itulah yang kemudian mengubah segalanya. Kini setiap tanggal 14 Februari orang di berbagai belahan dunia merayakannya sebagai hari kasih sayang. Orang-orang yang merayakan hari itu mengingat St. Valentine sebagai pejuang cinta, sementara kaisar Claudius dikenang sebagai seseorang yang berusaha mengenyahkan cinta.

Kesimpulan: Dari semua asal usul atau sejarah diatas bisa disimpulkan bahwa “hari valentin memiliki latar belakang yang tidak jelas sama-sekali”, baik dari ceritanya maupun waktu terjadinya (perhatikan abad terjadinya sejarah diatas walaupun ada nama tokoh yang sama).

Gimana menurut Anda?

Sumber : http://ugiq.blogspot.com/

http://duniatehnikku.wordpress.com/2011/02/14/asal-mula-perayaan-hari-valentine/